MINGGU VI SESUDAH EPIFANI
Sabtu, 19 Februari 2022
Renungan Pagi
KJ. 379 : 1 – Berdoa
HIKMAT TUHAN VS HIKMAT DUNIA
Yakobus 3 : 16 – 18
Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai (ay.18)
Dalam kehidupan selalu ada dua sisi yang berlawanan. Baik-buruk, sehat-sakit, tinggi-pendek, dsb. Dua sisi yang menjadi penilaian bagian kehidupan manusia. Dua sisi yang bisa dialami. Satu sisi dinilai bisa membuat menjadi lebih baik atau sisi lain yang dinilai menjadi tidak baik. Kedua sisi ini mempengaruhi kehidupan. Jika tertuju pada hal baik, maka baiklah dampak keadaan yang dialami. Sebaliknya, jika tertuju pada haI-hal yang tidak baik, maka semuanya bisa berdampak menjadi tidak baik.
Dampak dari hikmat yang dimiliki umatjuga mempengaruhi. Yakobus mengingatkan bahwa hikmat yang ada dalam diri umat dapat dikuasai oleh hikmat dari Tuhan atau diri sendiri. Dampak yang terjadi jika hikmat berasal dari diri sendiri adalah iri hati dan mementingkan diri sendiri. Akibatnya kekacauanlah dan segala macam perbuatan jahat yang akan terjadi (ay.16). Sebaliknya jika seseorang memiliki hikmat Allah maka yang dinyatakan adalah hal-hal baik. Pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan menghasilkan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik (ay. 17). Yakobus menegaskan bahwa hikmat yang dimiliki manusia tergantung dari diri manusia itu sendiri. Apakah diri ingin dikuasai oleh hikmat Tuhan atau hikmat diri sendiri. Kita yang ingin selalu berada dalam kedamaian dan cinta kasih, maka hikmat Tuhan yang berkuasa dalam diri, “ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai” (ay.18).
Pagi ini mari kita mulai dengan kebaikan dan kebenaran seturut kehendak Tuhan. Jadikan hikmat Tuhan berkuasa dalam diri. Nyatakan segala kehendak-Nya melalui diri kita. Jangan hikmat diri menjadi pilihan dan menguasai setiap gerak kehidupan. Mintalah Tuhan memampukan dan mem beri Hikmat-Nya hadirdan menguasai diri.
KJ. 379 : 7
Doa : (Bapa, mampukan dan kuatkan agar Hikmat-Mu saja nyata dalam diriku)
MINGGU VI SESUDAH EPIFANI
Sabtu, 19 Februari 2022
Renungan Malam
KJ. 446 : 1 – Berdoa
BUAH KESABARAN
Yakobus 5 : 7 – 11
Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang bertekun… (ay.11)
Satu sifat yang dimiliki manusia adalah kesabaran. Apakah seseorang menjadi sabar atau tidak sabar ketika diperhadapkan pada cara menggapai atau memperoleh sesuatu yang diinginkan. Sabar atau tidaknya seseorang tergantung bagaimana seseorang dapat mengendalikan diri. Sabar bisa menyangkut emosi, tindakan dalam melakukan suatu pekerjaan bahkan menantikan yang diharapkan. Bagaimana dengan kita?
Firman Tuhan hendak menyatakan kesabaran dalam menantikan kedatangan Tuhan ditengah pergumulan hidup yang dihadapi. Tidak mudah untuk bertahan dalam pergumulan dan tantangan hidup. Harapan terlepas dan terbebas dari “himpitan” persoalan dalam hidup membuat seseorang mengambil jalan pintas. Akibatnya hasil yang diperoleh kadang tidak sesuai dengan harapan. Justru menambah permasalahan. Yakobus mengingatkan bahwa penantian dalam menghadapi persoalan kehidupan tetap dalam kendali Tuhan. Menantikan dengan tekun kedatangan Tuhan di tengah persoalan hidup harus menjadi bagian dalam diri umat. Sabar untuk melalui dan melewati persoalan hidup dalam ketaatan dalam Tuhan menjadi hal utama. Buah setia dalam ketekunan adalah karunia dan berkat-Nya akan diberikan. Ayub menjadi contoh sosok yang bertekun dalam penderitaan yang dialami. Kesetiaan dalam ketekunan berbuahkan berkat yang Tuhan nyatakan dalam hidup Ayub.
Dalam hidup ini, hendaklah kita memiliki ketekunan. Ketekunan untuk menjalani tugas dan panggilan. Ketekunan menghadapi persoalan hidup. Ketekunan yang berdampak pada kesetiaan yang membuahkan berkat. Berkat kebahagiaan dari Tuhan. Lakukan segala sesuatu dalam ketekunan di pagi ini menjadi berkat dalam hidup kita. Yakinlah Tuhan menyertai dan menguatkan sehingga kita mampu bertekun dalam segala hal.
KJ. 446 : 3
Doa : (Tuhan Yesus, berikan kekuatan-Mu agar aku dapat bertekun dalam kesabaran daIam hidup ini)
