SESUDAH RABU ABU
Kamis, 18 Februari 2021
Renungan Pagi
HUT KE 56 PELKAT PKP GPIB
KJ. 86 : 1,2 – Berdoa
KESAKSIAN ALLAH
1 Yohanes 5 : 6 – 9
“Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat.” (ay. 9a)
Tentang kesaksian, bukan merupakan sesuatu berita langka. Lazimnya kesaksian berhubungan dengan kebenaran atau dusta. Seseorang dapat memberikan kesaksian tentang dirinya sendiri namun belum menjamin kebenaran sejati. Jika masih diragukan, mintalah orang lain yang diperkirakan mengetahui peristiwanya. Sebagai contoh: Yohanes Pembaptis pernah bersaksi tentarg dirinya sendiri menjawab pertanyaan beberapa imam dan orang-orang Lewi. la mengaku dan tidak berdusta katanya, “Aku bukan Mesias.” bukan Elia, atau nabi yang akan datang. “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan (Yoh.1:19-23), seperti disaksikan nabi Yesaya (40:3). Peristiwa ini membuktikan kesaksiannya ini benar, bukan saja dari dirinya sendiri, malahan telah disaksikan oleh nabi Yesaya ribuan tahun sebelumnya oleh malaekat tentang kelahirannya (lih.Luk.1.5-25.
Namun sisi lemahnya nampak ketika Yohanes Pembaptis berada di penjara karena agak meragukan kehadiran Yesus. Melihat hal ini Yesus bersaksi bagi banyak orang: Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian kemari? Tetapi Yesus tetap mendukung Yohanes sebagai seorang nabi terbesar, utusan Allah yang mendahului dan mempersiapkan jalan untuk Yesus (Luk.7: 18-28). Ketika Yesus dibaptis dan berdoa di Sungai Yordan terbukalah langit dan turuniah Roh Kudus dalam rupa burung terdengarlah suara dari langit “Engkaulah Anakku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan. Jelas bahwa kesaksian Allah Bapa, Allah Anak dan Roh Kudus dari sorga melebihi kesaksian manusia. Bagi saudara yang pernah mengaku percaya pada Kristus saat sidi di gereja, namun kemudian menyangkalnya, janganlah menyesal kemudian karena tidak masuk dalam hidup yang kekal.
KJ. 86 : 3,5
Doa : (Bersama dengan semua orang percaya yang mengaku Engkau sebagai Allah Pencipta, Kristus Penebus dan Roh Kudus Pembaharu dan berkatilah kami dalam hidup ini)
SESUDAH RABU ABU
Kamis, 18 Februari 2021
Renungan Malam
HUT KE 56 PELKAT PKP GPIB
KJ. 426 : 1,2 – Berdoa
MENYAKSIKAN ANAK ALLAH
1 Yohanes 5 : 10 – 12
“Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam diri-Nya, … ” (ay. 10)
Hubungan antara percaya dan kesaksian memang penting. Apabila percaya dan kesaksian diri ini berjalan simultan, maka akan merupakan kebenaran yang dipercaya mampu membangun persekutuan yang kuat. Namun apabila soal percaya ini tidak sejalan dengan kesaksian dari dirinya sendiri, maka hal itu menimbulkan ketidak-percayaan atau dusta yang dari pihak-pihak yang didapatkan dari pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam pengertian inilah, rasul Yohanes merasa perlu memberikan pengertian mendalam tentang membangun hidup yang benar dan menjauhi perbuatan dusta yang dapat merusak umat binaannya.
Dengan membangun kepercayaan kepada Anak Allah dan bersaksi di dalam diri-Nya tentang kebenaran ini, maka mereka memiliki hidup yang kekal. Sebaliknya ia mengingatkan umat binaannya agar menghindari diri dari bahaya ketidak-percayaannya kepada Allah, dan membuat mereka menjadi pendusta, karena tidak percaya kepada kesaksian yang diberikan Allah tentang AnakNya (ay.10). Kesaksian yang benar patut dipercayai, yaitu bahwa Allah telah mengaruniakan hidup kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya (ay.11).
Jemaat-jemaat kita perlu membangun persekutuan yang langgeng dan berkesinambungan. Apakah gunanya membangun persekutuan dengan sibuk sendiri melayani dan bersaksi, jika tidak didasarkan pada Yesus Kristus, Kepala Gereja? Mari teguhkan penghayatan pada Tuhan Yesus Kristus, yang diurapi, Anak Allah yang hidup, Juruselamat dunia. Yang menjadi fokus utama kebutuhan jemaat dalam melayani adalah penghayatan percaya kepada Kristus dan kemampuan melaksanakan firman-Nya.
KJ. 426 : 4
Doa : (Tuhan, kami sering sibuk dengan tugas rutin pelayanan Jemaat, dan lupa membina pelayanan dan kesaksian dalam dasar iman kami yang sebenarnya. Ampunilah kami)
