MINGGU XXI SESUDAH PENTAKOSTA
Senin, 18 Oktober 2021
Renungan Pagi
KJ. 342 : 1 – Berdoa
PEMIMPIN : PATUH MELAKSANAKAN PEKERJAAN
Kejadian 37 : 12 – 17
Bukankah saudara-saudaramu menggembalakan kambing domba dekat Sikhem? Marilah engkau kusuruh kepada mereka. Sahut Yusuf: “Ya Bapa” (ay. 13)
Pemimpin yang baik adalaj yang siap melaksanakan pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. Khususnya di tengah-tengah kondisi saat ini, pemimpin harus memperlihatkan kepeduliannya terhadap realitas di sekitarnya. Pemimpin tidak hanya pandai berbicara atau duduk di belakang meja saja.
Yusuf bukanlah “anak manja” atau “anak rumahan.” Ketika Yakub, ayahnya, menyuruh Yusuf untuk melihat keadaan saudara-saudaranya yang sedang menggembalakan domba di Sikhem, ia menyanggupinya dengan mengatakan, “Ya, bapa” (ay. 13-15). Jawaban itu merupakan bentuk bakti dan ketaatan Yusuf kepada ayahnya. Bahkan ketika ia tidak menemukan saudara saudaranya di sana, dia tidak putus asa atau kembali ke rumah ayahnya. Ia terus mencari dan rela berjalan cukup jauh untuk menemukan mereka.
Yusuf menemukan saudara-saudaranya karena ia mengasihi mereka. Ia menuntaskan pekerjaan seperti yang diperintahkan Yakub kepadanya. Yusuf telah menunjukkan bahwa ia adalah seorang (calon) pemimpin masa depan yang mau bekerja dan bertanggung jawab atas tugas yang dipercayakan kepadanya. Ia memperlihatkan kinerja dengan baik, tidak mengeluh dan terus mencari sampai pencariannya itu tuntas.
Kesiapan mengerjakan tugas yang dipercayakan kepada kita bukanlah sekadar kata-kata yang terucap melainkan tindakan nyata. Akan ada banyak tantangan atau persoalan yang kita temui saat mengerjakan tugas tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita. Karena itu, jangan putus asa dan lemah. Kita harus memiliki mental yang teguh, bersemangat, tidak mudah menyerah dan bersabar dalam setiap keadaan.
GPIB membutuhkan pribadi-pribadi dengan jiwa pemimpin, yang selalu siap mengerjakan tugas dan tanggung jawab dalam melayani Tuhan dengan segenap hati. GPIB membutuhkan orang-orang yang tulus dan berhikmat untuk membawa bahtera GPIB mengarungi dunia dengan semangat yang tak pernah padam.
KJ. 343 : 2,3
Doa : (Ya Bapa, mohon berilah keteguhan dalam hati kami, agar siap mengerjakan tugas yang dipercayakan kepada kami)
MINGGU XXI SESUDAH PENTAKOSTA
Senin, 18 Oktober 2021
Renungan Malam
KJ. 413 : 1 – Berdoa
PEMIMPIN : SIAP MENGHADAPI RISIKO
Kejadian 37 : 18 – 22
Janganlah tumpahkan darah, lemparkanlah dia ke dalam sumur yang ada di padang gurun ini, tetapi janganlah apa-apakan dia (ay. 22)
Ada banyak motif kejahatan yang mendorong seseorang untuk menyingkirkan pemimpin yang tidak disukai, misalnya: kebencian, tidak mengikuti kemauannya atau kalah bersaing. Biasanya, pemimpin yang lurus hidupnya akan selalu dipersulit oleh orang-orang yang demikian. Karenanya, setiap pemimpin yang berkinerja baik sudah seharusnya menyadari resiko yang akan dihadapi di mana dan kapan saja.
Saudara-saudara Yusuf mempunyai niat dan kesempatan untuk melakukan kejahatan kepada Yusuf, adiknya. Kata mereka,”mari kita bunuh dia.” Kebencian, dendam dan iri hati telah membutakan mata hati mereka untuk melakukan pembunuhan kepada adiknya sendiri (band. Kisah Kain dan Habel – Kej. 4). Bagi mereka, Yusuf harus disingkirkan dengan cara apapun. Mereka tidak peduli lagi. Tekad mereka adalah supaya Yusuf tidak boleh hidup di antara mereka. Akan tetapi, Allah dengan cara-Nya melepaskan Yusuf melalui Ruben: ”Janganlah tumpahkan darah, – maksudnya hendak melepaskan Yusuf dari tangan mereka dan membawanya kembali kepada ayahnya.” Sangatlah jelas bahwa Allah tidak akan membiarkan Yusuf menghadapi resiko pembunuhan seorang diri saja. Allah berpihak pada Yusuf untuk menyatakan rencana-Nya, yaitu mengangkat Yusuf sebagai pemimpin di Mesir.
Walaupun Yusuf sedang dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan oleh Allah, ia juga menghadapi risiko pembunuhan yang sudah diatur sedemikian rupa oleh saudara-saudaranya sendiri. Dalam kehidupan apapun, secara khusus di gereja, terkadang seorang pemimpin juga menghadapi risiko tidak disukai oleh orang-orang tertentu dengan berbagai alasan. Karenanya, seorang pemimpin harus dapat menghadapi risiko seperti itu dengan tenang dan bijak, sehingga tidak menimbulkan perdebatan yang justru merusak tatanan hidup persekutuan. Percayalah, bahwa pada saat kita mengalami kesulitan, Tuhan tidak akan meninggalkan orang yang melayani-Nya dengan baik. Tuhan ada dan siap sedia menolong hamba-Nya.
KJ. 413 : 2,3
Doa : (Bapa yang di sorga, mohon berilah kami hati yang bersih, agar terhindar dari melakukan kejahatan)
