MINGGU XXIV SESUDAH PENTAKOSTA
Selasa, 17 November 2020
Renungan Pagi
GB. 101 : 1 – Berdoa
RISIKO MENJADI PEMIMPIN
Yesaya 53 : 6 – 9
“…dan karena pemberontakan umat-Ku, ia kena tulah” (ay. 8d)
Saudaraku, menjadi seorang pemimpin tidak selalu mendatangkan sukacita. Banyak tanggung jawab yang harus dipikul seorang diri. Kehidupan organisasi yang dipimpin bergantung pada kemampuan sang pemimpin. Sang pemimpin harus mampu membuat kebijakan yang tepat di masa-masa sulit demi kelangsungan organisasi. Karena kebijakan itu, ia harus siap dengan segala risiko atas jabatan kepemimpinan yang melekat dalam dirinya.
Saudaraku, risiko yang harus ditanggung seorang pemimpin adalah menghadapi orang-orang yang membelot dan menanggung akibat dari perbuatan mereka (ay.6). Artinya, menjadi seorang pemimpin harus berani membiarkan diri untuk dihina, dianiaya, dan ditindas oleh karena perbuatan orang-orang yang dipimpinnya. Sang pemimpin tidak boleh “membuka mulut” (mengeluh) atas risiko yang harus ditanggung (ay.7). Hal ini membuktikan bahwa banyak orang yang tidak memikirkan kehidupan pribadi sang pemimpin (ay.8). Lebih jauh lagi, terkadang sang pemimpin dianggap sebagai seorang penjahat dalam melaksanakan tugasnya (ay.9).
Saudaraku, memang terasa berat tanggung jawab dan risiko yang harus dihadapi oleh seorang pemimpin. Namun demikian perlu diketahui bahwa tanpa kehadiran pemimpin, kehidupan organisasi menjadi tidak jelas. Karena itu, kita sebagai anggota organisasi harus mendoakan dan mendukung kebijakan pemimpin. la pasti sudah mempertimbangkannya dengan baik demi kehidupan bersama. Jika kita menjadi pemimpin, maka tidak boleh mengeluh atas beratnya tugas dan tanggung jawab serta risiko-risiko yang harus dihadapi, Tuhan pasti memberikan kepada kita, baik pemimpin maupun anggota organisasi kemampuan dan kekuatan untuk menunaikan tugas serta menanggung risiko yang ada.
GB. 101 : 2
Doa : (Tuhan Yesus, mohon berikan kami kekuatan dan kemampuan untuk menjalani tugas beserta risiko-risikonya)
MINGGU XXIV SESUDAH PENTAKOSTA
Selasa, 17 November 2020
Renungan Malam
KJ. 375 – Berdoa
KESUKSESAN SEORANG PEMIMPIN
Yesaya 53 : 10 – 12
“Sesudah kesusahan jiwanya, ia akan melihat terang dan menjadi puas” (ay. 11a)
Saudaraku, ada pepatah yang mengatakan “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Ungkapan ini memiliki makna yakni, tidak ada seorang pun yang meraih keberhasilan dengan cara instan. Mereka harus “banting tulang” sedemikian rupa dan menghadapi berbagai macam tantangan serta penderitaan agar berhasil meraih kesuksesan. Namun demikian, apakah dengan kerja keras saja kita dapat meraih kesuksesan? Apakah benar demikian?
Saudaraku, kita jangan lupa dengan ungkapan “berdoalah sebelum bekerja dan kerjakan yang telah didoakan”. Artinya, kerja keras yang kita lakukan belum tentu menghasilkan kesuksesan, jika tidak didoakan. Karena kita adalah manusia yang memiliki keterbatasan. Pada saat menghadapi begitu banyak tantangan, kita belum tentu sanggup untuk melewatinya. Kebanyakan dari kita justru stres dan depresi ketika banyak tantangan hadir dalam hidup ini. Karena itu, berdoalah dan ijinkan Allah mengintervensi kehidupan kita.
Saudaraku, sosok Hamba AIIah yang digambarkan oleh Yesaya akan membawa pemulihan bagi kehidupan bangsa Israel. Melalui bacaan hari ini, kita mengetahui bahwa Hamba Allah harus menghadapi berbagai macam penderitaan demi mewujudkan pemulihan tersebut. Yang menarik adalah, Hamba Allah ini tidak mengandalkan kekuatan dirinya sendiri. la benar-benar berserah kepada Allah. Akhirnya, pemulihan bagi Israel pun dapat terwujud.
Saudaraku, penderitaan yang harus kita alami merupakan suatu proses menuju kesuksesan. Di tengah penderitaan ini, kita tidak boleh menyerah melainkan harus menghadapinya bersama dengan Allah. la pasti memberikan kita kemampuan untuk melewatinya dan meraih kesuksesan. Kuncinya adalah berdoa dan bekerja.
GB. 298 : 3
Doa : (Tuhan Yesus, mohon berikanlah kami kemampuan, sehingga dapat menghadapi tantangan dan meraih kesuksesan)
