MINGGU VI SESUDAH EPIFANI
Jumat, 18 Februari 2022
Renungan Pagi
KJ. 116 : 1,2 – Berdoa
HIDUP YANG HAMBAR, NO!
Yakobus 2 : 24 – 26
Sebab seperti tubuh tanpa Roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati. (ay.26)
Hidup seperti makanan. Nikmat atau tidaknya hidup dapat kita rasakan. Kita dapat mengalami ke”asyik”an hidupjika diisi dengan hal yang bermakna dan bermanfaat. Sebaliknya, jika hidup tidak dimaknai dan bermanfaat, hidup terasa membosankan, Hidup tidak memberi semangat untuk menyikapi setiap persoalan yang ada.
Gambaran kehidupan ini seperti iman tanpa perbuatan. Iman tidak akan menjadi bertumbuh jika tidak disertai perbuatan nyata bagi sesama dan lingkungan. Perbuatan-perbuatan iman yang berdampak bagi sesama jika pertama, perbuatan tersebut sesuai dengan kehendak Tuhan. Bukan perbuatan sesuai keinginan dan kehendak diri kita. Kedua, perbuatan yang dilakukan dalam kemurnian hati. Sebagaimana Kristus dalam menjalankan karya keselamatan-Nya, dilakukan dalam kemurnian hati menjalankan tugas Allah Bapa. Tidak ada tujuan di balik setiap perbuatan yang dilakukan. Ketiga, perbuatan yang memberi damai dan sukacita. Banyak perbuatan yang bisa dilakukan terhadap orang Iain. Persoalannya adalah apakah perbuatan tersebut memberi damai dan sukacita. Yang terjadi adalah perbuatan kita tersebut menjadi batu sandungan. Perbuatan yang tidak menjadi berkat bagi orang lain. Tiga hal inilah yang dapat mem buat hidup kita tidak bermakna dan bermanfaat bagi sesama. Hidup yang membawa kepada kebosanan seakan-akan tidak berarti. Hidup menjadi hambar.
Pagi ini menjadi komitmen untuk menjadikan hidup berarti. Hidup untuk memberi dampak baik bagi sesama. Pakailah setiap kemampuan diri dan berkat Tuhan dalam hidup kita, sebagai saluran kasih Tuhan yang kita alami dan rasakan kepada orang lain. Jadikanlah hidup yang menyatakan kehendak Tuhan sebagai bentuk hidup yang beriman kepada Allah. Tuhan Yesus memberkati.
KJ. 116 : 3
Doa : (Tuhan Yesus, jadikanlah diriku berarti dan bermakna bagi sesama)
MINGGU VI SESUDAH EPIFANI
Jumat, 18 Februari 2022
Renungan Malam
GB. 164 : 1 – Berdoa
AKU BERHIKMAT ?
Yakobus 3 : 13 – 15
Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri… (ay.14)
Sadar atau tidak, dalam pelayanan kita sering memaksakan kehendak. lde, pendapat atau keinginan harus seperti yang kita mau. Jika segala ide, pendapat atau keinginan tidak sesuai seperti yang kita harapkan, kita akan marah, “ngambek’ bahkan mengundurkan diri dari pelayanan. Mengapa hal itu bisa terjadi.
Dalam menyatakan diri dalam berbagai aspek dalam kehidupan, kita harus dalam kendali kehendak Tuhan. Artinya, setiap pikiran, perkataan dan perbuatan tidak boleh di luar kehendak Allah. Yakobus menegaskan bahwa jika kehendak diri masih menguasai, maka ia masih belum memiliki Hikmat Tuhan. Jika seseorang memiliki Hikmat Tuhan, akan tercermin dari perilaku dalam hidupnya. la tidak mengandalkan dirinya. la tidak menjadikan diri lebih utama. Ayat 14 tegas menyatakan, “jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri…” Ini tanda seseorang masih dikuasai kuasa dunia. Hikmat dunia yang mengendalikan. Yakobus mengingatkan agar umat di perantauan memiliki Hikmat Tuhan. Hikmat yang memberi dampak kebaikan bagi diri mereka dalam berperilaku. Hikmat untuk menyatakan dan melakukan kehendak Tuhan dan yang bukan kehendak-Nya.
Satu hari dalam perjalanan hidup akan kita lewati. Firman Tuhan malam ini mengajak kita untuk merenungkan perilaku di sepanjang hari ini. Apakah kita dikuasai hikmat Tuhan atau kehendak diri. Jika kita merasa perilaku hari ini masih dikuasai kehendak dan keinginan diri, maka mintalah Tuhan mengisi diri kita agar HikmatNya menguasai kita. Firman-Nya, “Jangan engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan” (Amsal 3:7). Ini berarti jangan menilai diri sendiri bijak jika dalam kenyataan perbuatan kita masih jauh dari kehendak Tuhan. Aku berhikmat?
GB. 164 : 3
Doa : (Tuhan, kiranya Hikmat-Mu saja menguasai diriku)
