MINGGU XXIV SESUDAH PENTAKOSTA
Senin, 16 November 2020
Renungan Pagi
GB. 64 : 1, 2 – Berdoa
PEMIMPIN YANG SEJATI
Yesaya 52 : 13 – 15
Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan (ay. 13)
Saudaraku, setiap orang yang berkeinginan untuk menjadi seorang pemimpin dalam organisasi, akan berupaya sedemikian rupa, agar dapat menduduki jabatan kepemimpinan. Misalnya, dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden berupaya sedemikian rupa untuk memenangkan pemilu. Pasangan tersebut membentuk tim sukses dan melakukan kampanye untuk menarik hati warga, agar memilih mereka. Setelah pasangan tersebut terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden, mereka tentu berusaha menjadi pemimpin yang sejati.
Ketika seseorang sudah memiliki jabatan kepemimpinan dan mengandalkan Tuhan serta melakukan perintah-Nya, pasti hasilnya memuaskan. Oleh karena itu, Yesaya memberikan penegasan bahwa hamba-Ku akan berhasil (ay. 13a). Maksud dari hamba-Ku adalah orang yang taat dan setia kepada Tuhan.
Saudaraku, pemimpin yang sejati tidak akan mendapat malu. la akan ditinggikan, disanjung, dan dimuliakan (ay.13b). Meskipun banyak orang akan mencerca bahkan membenci, namun mereka akan tercengang atas hasil pekerjaannya. Mereka akan diam dan melihat hasil karya yang dilakukannya itu bersama dengan Tuhan itu (ay.14-15).
Saudaraku, kita harus menjadi pemimpin yang sejati dalam kehidupan ini. Berupaya keras untuk menjadi pemimpin yang sejati bukanlah suatu hal yang keliru namun, perlu dipahami bahwa manusia memiliki keterbatasan. Manusia harus mengandalkan Tuhan dalam berusaha menjadi pemimpin yang sejati, Tanpa Tuhan, usaha yang dilakukan pasti sia-sia. Dengan tetap mengandalkan kekuatan Tuhan, marilah kita melakukan tugas secara bertanggung jawab, baik sebagai pegawai maupun manager. Walaupun menderita, kita akan tetap tangguh dan berhasil ketika mengandalkan kekuatan Tuhan. Bahkan basil kerja kita dapat menjadi berkat bagi diri sendiri maupun orang-orang di sekitar.
GB. 64 : 3, 4
Doa : (Tuhan Yesus, kami berkomitmen untuk mengandalkan kekuatan-Mu agar dapat menjadi pemimpin yang sejati)
MINGGU XXIV SESUDAH PENTAKOSTA
Senin, 16 November 2020
Renungan Malam
KJ. 85 : 1 – Berdoa
PEMIMPIN YANG RELA BERKORBAN
Yesaya 53 : 1 – 5
“Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya” (ay. 4a)
Saudaraku, ada pepatah mengatakan “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Maknanya, supaya kita saling membantu menanggung beban dalam menghadapi tantangan. Ada beberapa hal yang diperlukan agar itu dapat terwujud yakni, satu perasaan, pemikiran, dan tujuan, serta yang tidak kalah penting adalah rela berkorban. Percuma kita memiliki satu perasaan, tujuan, dan pemikiran jika tidak mau berkorban.
Saudaraku, seseorang yang tidak rela berkorban membuktikan bahwa ia masih dikuasai oleh egoisme. Orang-orang semacam ini banyak kita jumpai dalam kehidupan bermasyarakat bahkan bergereja. Pertanyaannya adalah apakah sifat egois seseorang dapat dihilangkan? Tentu saja tidak. Egoisme merupakan hal yang alami ada dalam diri seseorang untuk bertahan hidup. Namun demikian, setiap kita dapat meminimalisirnya dengan mengingat kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja. la adalah Pemimpin Sejati yang rela berkorban.
Saudaraku, jika kita membaca nas renungan ini, maka pikiran kita akan tertuju kepada sosok Yesus Kristus. Yesus pernah dihina, dibenci, bahkan diludahi oleh banyak orang. la mengalami sengsara dan menanggung derita kesakitan karena tubuh-Nya dicambuk dan akhirnya disalibkan. Apakah Yesus layak mendapatkan semua itu? Tentu tidak. la tidak melakukan kesalahan dan tidak berbuat dosa. Yesus harus menerima semua itu karena pemberontakan dan kejahatan yang kita lakukan.
Saudaraku, jika Yesus Kristus rela mengorbankan diri-Nya bagi umat yang dikasihi-Nya maka, seharusnya kita juga rela berkorban. Pertanyaan reflektif untuk kita sebelum beristirahat malam adalah, apakah kita sudah rela berkorban pada hari ini? Jika belum, marilah berkomitmen untuk rela berkorban, karena kita adalah pemimpin bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, bahkan gereja.
KJ. 85 : 3, 5
Doa : (Tuhan Yesus, kami bersedia berkomitmen untuk rela berkorban hanya demi kemuliaan nama-Mu)
