HARI MINGGU XXIV SESUDAH PENTAKOSTA
Minggu, 15 November 2020
Renungan Pagi
KJ. 419 : 1, 2 – Berdoa
PEMIMPIN YANG BERINTEGRITAS
Yesaya 50 : 4 – 6
“Tuhan ALLAH telah membuka telingaku” (ay. 5a)
Romo A. Bagus Laksana, SJ – mengutip tulisan Kathleen Norris – menyebutkan acedia sebagai “setan yang tak bernama” (the devil without a name). Acedia adalah (istilah untuk keadaan manusia yang dibelenggu kebosanan, kelesuan, mager (malas gerak), makir (malas mikir), dan kehilangan gairah. Hal ini berbahaya karena orang menjadi lengah atau tidak waspada terhadap sebuah bahaya yang mengancam makna hidup mereka dalam arti yang paling dasariah. Kontras dengan kasih sebagai energi dimana spiritualitas bela rasa (compassion), penghargaan maupun penghormatan (respect), dan kepekaan (sensitivity) di dalam daya Roh Kudus menjadi energi (‘energeia’) yang memampukan orang untuk berliterasi batin.
Berliterasi batin merupakan kecakapan untuk membaca, menyadari, menafsirkan suatu keadaan yang berhubungan dengan tujuan hidup bersama Tuhan dan sesama yang saling bersinergi. Yesaya menghadirkan figur Hamba Tuhan (Ebed Yahweh) yang memiliki energi rohani yang besar sebagai wujud dari proses literasi batinnya dengan Tuhan yang dimulai dari mendengarkan dan menempatkan dirinya sebagai seorang ‘murid’. Inilah bentuk ‘kerasulan telinga’ yaitu mendengar Sabda Tuhan dalam perjumpaan dengan sesama. Apa yang didengarnya sebagai kehendak Tuhan, itulah yang dikatakannya. Apa yang dikatakannya, itulah yang dilakukannya sebagai wujud integritas diri.
Kita membutuhkan kultur kepemimpinan yang berintegritas. Pemimpin yang memiliki energi rohani yang besar untuk menyalakan kembali semangat dan pengharapan di tengah kelesuan (acedia) meskipun ada risiko bergulat dengan hal itu juga. Pribadi yang hadir untuk memadukan kembali kemanusiaan yang tercerai-berai dalam bingkai kekuatan persekutuan. Persekutuan yang terus setia berliterasi batin untuk menemukan kembali pengharapan dan makna hidup yang utuh, walau terhimpit pelbagai persoalan hidup. semoga kehadiran kita dalam perjumpaan dengan sesama selalu memperbarui energi kegembiraan, karena apa yang didengarkan, Ialu dikatakan, itu juga yang dilakukan menurut kehendak Allah. Inilah sebuah pemaknaan yang otentik atas “Kerasulan Telinga” yang bermuara pada “Tangan-tangan yang Merasul”.
KJ. 419 : 3, 4
Doa : (Tuhan Yesus, tolong mampukan kami menjadi pemimpin yang berintegritas)
HARI MINGGU XXIV SESUDAH PENTAKOSTA
Minggu, 15 November 2020
Renungan Malam
GB. 98 : 1, 2 – Berdoa
PEMIMPIN YANG BIJAKSANA
Yesaya 50 : 7 – 9
”Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda …”(ay. 7a)
Saudaraku, menjadi seorang pemimpin bukan hal yang mudah. Ada berbagai macam tantangan yang harus kita hadapi, seperti dihina, difitnah, menjadi bahan pembicaraan orang lain, dan sebagainya. Tidak jarang seorang pemimpin mengalami stres berat karena tidak kuat dalam menghadapi tantangan-tantangan yang ada. Akibatnya, keluarganya berantakan dan organisasi yang dipimpinnya menuju jurang kehancuran.
Begitu banyak tantangan yang harus dihadapi ketika menjadi seorang pemimpin. Tidak heran jika seringkali orang menolak ketika dipilih menjadi seorang pemimpin. Misalnya menjadi ketua kelas, Pelayanan Kategorial, Natal Panitia, RT/RW, dan sebagainya. Banyak dari kita menolak untuk dijadikan pemimpin karena ada rasa takut dan malu.
Saudaraku, kita harus keluar dari perasaan-perasaan negatif agar menjadi pemimpin yang bijaksana. Cara agar kita dapat menjadi pemimpin yang bijaksana adalah dengan memohon hikmat Tuhan. Hanya la yang dapat menolong kita untuk melewati setiap tantangan dengan hati-hati dan berhasil, sehingga tidak mendapatkan malu (ay. 7-9). Mengapa? Karena Tuhan yang memilih kita akan menguatkan dan memberikan hikmat-Nya. la pasti memampukan kita untuk melaksanakan tugas dengan baik. Tuhan tidak akan membiarkan kita mendapatkan malu ketika sungguh-sungguh taat mendengarkan dan melakukan kehendak-Nya ataupun kebenaran.
Saudaraku, apakah kita sudah memohon hikmat Tuhan dan melakukan kebenaran firman-Nya sebagai pemimpin? Atau kita justru ragu akan firman Tuhan dan lebih mengandalkan kepintaran diri sendiri? Jika masih mengandalkan kekuatan diri sendiri, suatu saat kita pasti akan terjatuh. ltu karena kita penuh dengan keterbatasan. Mari memohon hikmat Tuhan dalam hidup ini supaya kita dimampukan untuk menjadi pemimpin yang bijaksana.
GB. 98 : 3, 4
Doa : (Tuhan Yesus, kami mohon hikmat-Mu dan bimbingan kuasa Roh Kudus dalam hidup ini agar mampu menjadi pemimpin yang bijaksana)
