MINGGU V PRAPASKAH
Rabu, 16 Maret 2022
Renungan Pagi
KJ. 441 : 1,2 – Berdoa
NIKMATI PROSESNYA
Markus 8 : 22 – 26
Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, …. (ay. 25)
Mujizat penyembuhan orang buta di Betsaida terjadi secara bertahap, tidak seperti yang lumpuh langsung berjalan, yang tuli langsung mendengar atau yang buta langsung celik dan dapat melihat. Waktu orang buta itu dibawa oleh teman-temannya kepada Yesus, mereka berharap bahwa Yesus akan segera menyembuhkannya namun Yesus membawa orang buta itu keanr kampung. Yesus meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan atasnya. Yesus pun bertanya: “Sudahkah kaulihat sesuatu?” Ah, ternyata penglihatan orang itu masih samar-samar, belum terlihat jelas. Kemudian, saat Yesus meletakkan tangan-Nya yang ke dua kali, barulah orang buta itu dapat melihat dengan jelas.
Di zaman instan Ini, banyak orang menginginkan sesuatu yang serba cepat, serba enak tanpa memakan waktu dan proses. Banyak yang ingin sekuat baja tetapi enggan ditempa. Banyak yang ingin secemerlang emas tapi tak mau dilebur. Banyak yang ingin berguna di dunia tapi malas berbagi. Banyak yang ingin mengasihi tapi enggan mengampuni. Banyak yang ingin menjadi baik tetapi enggan berbuat benar. Banyak yang ingin menjadi pahlawan tapi enggan berkorban. Banyak yang ingin menuai tapi enggan menabur.
Oleh karena itu, kita seharusnya bersedia untuk bersabar dan tetap bersyukur ketika berada dalam sebuah proses. Mungkin proses itu tidaklah terasa nyaman, bahkan sakit. Mungkin proses itu tidak mudah malah berat dan sulit, tetapi itulah masa-masa kita ditempa dan dibentuk oleh Tuhan. Karena itu, bersyukurlah jika kita sedang berada dalam proses pembentukan Tuhan. Belajarlah untuk taat dan mengampuni, untuk legawa sambil terus bersyukur dalam kondisi apapun serta nikmatilah prosesnya. Suatu ketika, kita akan tersenyum melihat transformasi diri yang berjalan baik menuju kesempurnaan.
KJ. 441 : 3,4
Doa : (Terima kasih Tuhan untuk setiap proses hidup yang kami alami, dan hati yang bersedia dibentuk)
MINGGU V PRAPASKAH
Rabu, 16 Maret 2022
Renungan Malam
KJ. 160 : 1,2 – Berdoa
BERPIKIR SEPERTI ALLAH
Markus 8 : 31 – 38
…. “Enyahlah lblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (ay. 33)
Ada pepatah yang mengatakan, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Artinya, sifat anak tidak jauh berbeda dari orang tuanya. Kita menyebut Allah itu Bapa kita dan kita yang percaya kepadaNya disebut sebagai anak AIlah (Yoh.1:12). Kalau kita memanggil Allah itu Bapa, berarti pikiran kita tidak boleh jauh dari pikiran Allah. Apa yang kita pikirkan harus sama seperti apa yang Allah pikirkan. Yesus menegur Petrus dengan keras karena Petrus tidak memikirkan apa yang dipikirkan Allah, tetapi cenderung memikirkan hal-hal duniawi yang menyenangkan dirinya.
Ada kalanya kita melakukan kesalahan seperti yang dilakukan Petrus. Apa yang kita pikirkan tidak seperti apa yang Allah pikirkan. Kita Iebih banyak memikirkan perkara duniawi daripada yang rohani. ltulah sebabnya, banyak orang hidup dalam tekanan, putus asa, bimbang, resah dan gelisah, karena diperdaya oleh pikiran yang duniawi.
Pikiran duniawi mengarah pada kebinasaan tetapi pikiran rohani datangnya dari Allah dan menuntun kita pada hidup yang yang berkemenangan bahkan hidup yang kekal. Bagaimana dengan saudara, apa yang saudara pikirkan hari ini? Bebaskanlah pikiran saudara hari ini dari haI-hal yang duniawi. Berpikirlah seperti Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas bukan yang di bumi (Kol.3:2).
Karena itu, hiduplah di dalam kebenaran firman Allah agar pikiran kita senantiasa diperbaharui oleh-Nya. Tetaplah berdoa dan mengucap syukur di dalam segala perkara karena itulah yang dikehendaki Tuhan. Setia dan tekunlah berbakti bersama orang-orang beriman Iainnya. Allah setia kepada kita maka kita pun harus membuktikan kesetiaan kita kepada Allah dengan berpikir sebagai anak-anak Allah. Ingatlah bahwa membangun kesetiaan kepada Tuhan harus dimulai dari diri kita.
KJ. 169 : 3,4,5
Doa : (Bapa yang baik, kuduskanlah pikiran kami supaya kami mampu memikirkan perkara-perkara rohani demi menyenangkan hati-Mu)
