MINGGU XVI SESUDAH PENTAKOSTA
Rabu, 15 September 2021
Renungan Pagi
KJ. 60 : 1,7 – Berdoa
KETIKA LEMAH, AKU KUAT
2 Korintus 12 : 1 – 10
di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat (ay. 10)
“Aku lemah, maka aku kuat”. Ungkapan ini bukanlah sebuah kontradiktif, tetapi bersifat paradoks. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), kontradiktif berarti berlawanan. Sedangkan kata paradoks mengandung arti sebuah pernyataan yang seolah-olah bertentangan dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran.
Dalam teks Alkitab pagi ini, Paulus yang menyatakan, “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat”. Ini sebuah pernyataan iman berdasarkan penglihatan dan pengalaman hidup yang dialami-nya. Paulus adalah seorang Rasul Kristus yang dengan berani menyatakan sebuah kebenaran berdasarkan iman percayanya kepada Kristus. Ia mengalami banyak penderitaan. Pasti itu berat baginya. Namun demikian, dalam kesadaran diri sebagai manusia yang lemah dan yang menerima perlakuan yang menyakitkan, Paulus mendapatkan penglihatan yang memberikan kekuatan. Inilah cara Tuhan menyatakan cinta dan kasih-Nya kepada Paulus yang mengalami rasa sakit, karena hidup dalam kebenaran yang Tuhan Yesus berikan.
Pengalaman Paulus inilah yang menyadarkan kita sebagai orang beriman, bahwa dalam kelemahan diri untuk melaksanakan tugas panggilan dan pengutusan Tuhan tidak pernah membiarkan kita. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di sepanjang hari ini. Namun yang pasti, ketika kita melaksanakan setiap tugas dengan kebenaran iman, tantangan akan menghadang. Maka, jangan pernah ragu untuk hidup dalam kebenaran yang telah Yesus berikan. Ingatlah! Dalam kelemahan kita, Yesus hadir dan memberi kekuatan. Karena itu hadapi tantangan hari ini dengan penuh sukacita. Percayalah! Ketika kita datang kepada Dia membawa semua pergumulan yang kita pikul. Dia akan memberikan kekuatan. “Aku lemah maka aku kuat” sebuah pernyataan iman di tengah situasi sulit saat ini.
KJ. 38 : 1,5
Doa : (Tuhan, tolong mampukan kami untuk tidak larut dalam kelemahan diri, karena sesungguhnya Engkau selalu memberi kekuatan)
MINGGU XVI SESUDAH PENTAKOSTA
Rabu, 15 September 2021
Renungan Malam
GB. 257 : 1,2 – Berdoa
MENGORBANKAN DIRI
2 Korintus 12 : 11 – 15
Kerena itu aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu (ay. 15a)
Setelah beraktivitas sepanjang hari ini, mari kita merefleksikan semua yang telah kita lakukan. Adakah tantangan yang kita alami? Bagaimana cara kita mengatasi setiap tantangan yang ada? Apakah kita berputus asa atau kah kita memiliki semangat untuk menghadapi setiap tantangan? Mungkin kita berkata: “Saya mengalami tantangan, maka saya tidak memiliki semangat. Karena ketika saya berusaha dengan berbagai cara, tantangan itu tetap menghambat setiap aktivitas saya.” Atau kita berkata: “Saya mengalami tantangan. Saya semangat menghadapi setiap tantangan, karena saya tahu Tuhan akan memberikan kekuatan, sehingga saya dapat melewati setiap tantangan yang ada.” Hal ini memperlihatkan kepada kita, bahwa setiap orang memiliki respon yang berbeda atas tantangan. Namun demikian, yang pasti, tantangan membuat seseorang rela mengorbankan miliknya.
Teks malam ini memperlihatkan kepada kita bagaimana Paulus mengalami tantangan dalam melaksanakan tugas panggilan dan pengutusan sebagai seorang rasul. Ia rela mengorbankan miliknya bahkan dirinya untuk dapat bisa bertahan bahkan melewati setiap tantangan yang ada. Hal ini Paulus lakukan sebagai bentuk kesaksian hidup. Paulus menunjukkan sikap sebagai seorang rasul yang memiliki cinta dan kasih yang tulus.
Ketulusan cinta dan kasih yang ada pada diri seseorang tentu berdasarkan pengalaman hidupnya. Sebagai orang yang beriman kepada Tuhan Yesus, kita telah menerima cinta dan kasih-Nya. Maka, sudah seharusnya dalam kehidupan ini kita memberikan cinta dan kasih yang tulus kepada sesama. Hal ini tidak mudah, kita harus mengorbankan diri. Orang yang mengorbankan dirinya, tidak akan pernah memikirkan apa yang akan ia dapatkan tetapi selalu bertindak untuk menghadirkan damai sejahtera. Damai sejahtera membuat kita dapat bertahan bahkan melewati setiap tantangan yang ada.
GB. 242 : 1,2
Doa : (Ya Tuhan, mohon ampunilah kami, jika di dalam hidup ini seringkali berhitung dengan-Mu)
