MINGGU XXV SESUDAH PENTAKOSTA
Senin, 15 November 2021

Renungan Pagi

GB.226 : 1– Berdoa

KEMARAHAN YANG MEMBERKATI

Keluaran 32 : 15 – 20

maka bangkilah amarah Musa, dilemparkannyalah kedua loh itu dari tangannya dan dipecahkannya pada kaki gunung itu (ay.19b)

Setiap orang dengan berbagai alasan pasti pernah marah. Berdasarkan KBBI, marah bermakna perasaan sangat tidak senang karena berbagai hal yang tidak menyenangkan yang dialami seseorang (berang atau gusar). Marah pada satu sisi dibenarkan jika beralasan dan terkendali tetapi yang salah adalah kemarahan yang tidak terkendali dan tidak beralasan (band. Efesus 4:26).

Setelah menerima dua loh batu yang berisi hukum TUHAN, Musa bersama Yosua turun dari gunung Sinai menjumpai umat Israel. Musa mendengar dan melihat orang-orang Israel dengan sangat meriah menyanyi dan menari. Mereka menari dan menyanyi bukan dalam rangka menyambut Musa. Bukan juga dalam rangka memuji dan menyembah Allah, tetapi dalam rangka ritual penyembahan patung anak lembu emas. Israel telah mengecewakan Musa terlebih mengecewakan Allah. Ketidak-sabaran Israel menunggu Musa telah menjerumuskan mereka jatuh kedalam dosa. Musa marah dan bertindak menghancurkan patung anak lembu emas dengan dua loh batu. Tindakan Musa ini bermakna: a) Menegur Israel bahwa mereka telah menyimpang dan berada dalam krisis; b) Menunjukkan kepada Israel bahwa patung anak lembu emas itu tidak punya kuasa, hanya Allah yang hidup dan Maha-kuasa; c) Dua Loh Batu yang berisi Hukum TUHAN dihancurkan Musa sebagai lambang bahwa mereka telah menghancurkan dan melanggar hukum TUHAN.

Kemarahan Musa bukan membawa Israel pada kebinasaan tetapi justru pada berkat. Maksudnya kemarahan Musa bertujuan untuk menyelamatkan Israel dari kebinasaan karena dosa. Kema-rahan yang menghadirkan berkat inilah yang harus kita nyatakan ketika diperhadapkan dengan penyimpangan dan penyesatan di sekitar kita. Kemarahan yang menghadirkan berkat itu dibangun berdasarkan kasih Allah dan kebenaran Firman-Nya, bukan dilandasi oleh emosi dan kebencian.

GB. 226 : 4

Doa : (Tuhan mohon tolong kami berani menyatakan kebenaran-Mu)

MINGGU XXV SESUDAH PENTAKOSTA
Senin, 15 November 2021

Renungan Malam

GB. 118 : 1 – Berdoa

HIDUP SUPERIOR

Keluaran 32 : 21 – 24

Tetapi jawab Harun: “Janganlah bangkit amarah tuanku, engkau sendiri tahu, bahwa bangsa ini jahat semata-mata (ay.22)

Kita pernah mendengar peribahasa ‘buruk muka cermin dibelah’. Peribahasa tersebut mempunyai arti ‘seorang yang menyalahkan keadaan yang buruk kepada orang lain atau seorang yang tidak mau mengakui kesalahan dan kelemahan sendiri. Sama dengan ungkapan ‘tak pandai menari dikatakan lantai terjungkit’. Fakta dari makna peribahasa tersebut sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari : baik di rumah, lingkungan pekerjaan bah-kan dalam pelayanan. Sikap atau pernyataan itulah yang ditunjuk-kan oleh Harun ketika menjawab pertanyaan Musa perihal tindak-an Israel yang membuat dan menyembah anak lembu emas.

Harun sebagai imam telah dipercaya Musa untuk mengurus perkara Israel selama Musa naik ke Gunung Sinai untuk menghadap TUHAN (Kel. 24:14). Ketika orang-orang Israel datang menemui Harun dan mendesaknya untuk membuat ‘allah’, Harun justru memenuhi keinginan orang Israel dengan membuat patung anak lembu emas (Kel. 32:1-6). Dengan demikian Harun turut andil ketika Israel jatuh dalam dosa penyembahan patung anak lembu emas. Ketika Musa bertanya perihal tindakan orang Israel tersebut, dengan tenang Harun menyalahkan orang Israel yang disebutnya bangsa yang jahat. Pada titik ini Harun dapat disebut dengan istilah ‘inferior’ yaitu orang yang memiliki kualitas/mutu yang rendah karena menyalahkan orang lain. Seharusnya sebagai pemimpin Harun menunjukkan sosok yang berkualitas atau ‘superior’ dalam arti berani bertanggung jawab. Orang yang superior adalah orang yang tidak suka melempar batu sembunyi tangan.

Mengakhiri malam ini Firman Tuhan mengajarkan kita semua terutama para pelayan untuk memiliki hidup yang superior atau berkualitas. Hidup yang demikian adalah hidup yang memuliakan Tuhan dan tidak suka menyalahkan orang lain. Hidup yang menjadi berkat bagi TUHAN dan sesama.

GB.118 : 2

Doa : (Tuhan mohon mampukan kami memiliki hidup yang berkualitas dan senantiasa memuliakan nama-Mu serta menjadi berkat bagi sesama kami)

Scroll to Top