MINGGU XXIII SESUDAH PENTAKOSTA
Sabtu, 14 November 2020

Renungan Pagi

KJ. 446 : 1, 2 – Berdoa

SAKSI YANG BENAR DAN SETIA

Yesaya 43 : 8 – 13

“Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada Juruselamat selain dari pada-Ku” (ay. 11)

Apakah iman memerlukan bukti? Siapakah yang bisa membuktikan iman itu bekerja? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan oleh orang terhadap proses beriman yang ia alami. Hal penting untuk membuktikan keimanan adalah soal saksi iman. Ternyata, iman itu juga bisa dibuktikan karena ada yang menjadi saksi. Pertanyaannya, apa yang disaksikan?
 
Bacaan ini mengatakan bahwa identitas umat Allah bagaikan seorang saksi. Selaku saksi, maka ia dipanggil menjadi “penerjemah” (translator) yang benar atas apa yang dilihatnya sebagai karya Allah (ay.9). Penerjemahan karya AIIah akan membawa sang saksi untuk mengatakan apa yang telah Dia lakukan terhadap umat-Nya, yaitu pembebasan dan pemulihan. Sebaliknya, sang saksi bias juga menjadi “pengkhianat” (treiter), karena tidak mengatakan yang benar pada apa yang ia saksikan tentang karya Allah (ay.8). Mengapa berkhianat? Karena sang saksi tidak mempunyai kehidupan yang akrab dengan Allah; hidupnya jauh dari-Nya. Berbeda dengan saksi yang baik, ia menerjemahkan kabar sukacita agar dunia diselamatkan.
 
Menjadi saksi yang baik berarti mempunyai integritas, yaitu kesatuan kata dan tindakan. Ucapannya sejalan dengan apa yang ia lakukan. Hanya dengan begitu kesaksiannya didengar oleh banyak orang. Bersaksi setiap hari berarti membawa hidup Allah ke dalam panggung kehidupan dunia ini tiap saat. Sebab, dunia ini adalah “panggung kemuliaan Allah” (theatrium gloriae Dei), tempat para saksi menceritakan kasih setia-Nya yang tak berkesudahan.

KJ. 446 : 3, 4

Doa : (Tolong mampukan kami ya Allah untuk menjadi saksi-Mu yang benar juga setia sebagai bukti iman atas karya pembebasan serta pemulihan yang sudah dan terus berlangsung di tengah dunia ini)

MINGGU XXIII SESUDAH PENTAKOSTA
Sabtu, 14 November 2020

Renungan Malam

GB. 78 : 1, 2 – Berdoa

BELAJAR DARI MASA LALU, DEMI KEBAIKAN DI MASA DEPAN

Yesaya 43 : 14 – 21

“Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru…” (ay. 19a)

Pembaruan adalah karya Allah dari dulu, sekarang dan waktu yang akan datang. Tidak secara fisik saja, tetapi pembaruan Allah juga dikerjakan atas hidup kerohanian manusia. Inilah yang disebut pembaruan Allah yang holistik, utuh dan menyeluruh. Allah tidak bosan mengingatkan umat-Nya, agar terus terarah ke masa depan, sebagai masa pemulihan. Dahulu mereka terpuruk karena melawan Allah. Namun demikian, masa Ialu bukan untuk disesali, sebaliknya menjadi pelajaran agar umat dapat hidup lebih baik lagi (ay. 18).
 
Pasca Pembuangan, Allah mengusung visi besar untuk melanjutkan pembaruan hidup umat dengan berfokus pada pembaruan hati. Sebab dari dalam hati muncul segala keinginan yang baik dan yang jahat. Untuk tetap mempunyai hati yang baik, maka umat harus hidup tertambat pada firman-Nya. Firman yang menebus seluruh ciptaan. Firman yang menciptakan seluruh yang ada. Penebusan dan penciptaan adalah dua kata dalam perbendaharaan iman yang sama-sama bermakna ke masa depan. Melalui penebusan, Allah membarui seluruh ciptaan. Begitu pula melalui penciptaan, Allah terus bekerja mencipta sampai ke masa depan.
 
Masa lalu adalah narasi tentang keberhasilan dan kegagalan menjadi manusia yang baik. Masa Ialu sering menghadirkan trauma berupa bekas atau torehan dari suatu peristiwa negatif yang mendalam terlebih saat kegagalan terjadi. Karena itu berdamai dengan masa Ialu akan membawa pemulihan demi menyongsong masa depan yang lebih baik, bersama Allah.

GB. 78 : 3, 4

Doa : (Ya Allah tolong mampukan kami berdamai dengan kegagalan di masa Ialu. Mohon Allah memberkati kami untuk menyongsong masa depan yang lebih baik bersama-Mu)

Scroll to Top