MINGGU V PRAPASKAH
Selasa, 15 Maret 2022
Renungan Pagi
KJ. 298 : 1,3 – Berdoa
JADILAH PRIBADI YANG BERTANGGUNGJAWAB
Markus 8 : 1 – 10
“…la mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak (ay. 6)
Dalam peristiwa Yesus memberi makan orang banyak, terlihat jelas sikap Yesus. yang peduli dan bertanggung-jawab (Mat 14:13-21; Mark. 8:21-10). la tidak hanya memberi makan secara rohani, tetapi juga mengusahakan supaya para pengikut-Nya itu dikenyangkan secara jasmani. Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak yang mengikuti Dia selama tiga hari dan ternyata mereka pun tidak mempunyai makanan. Yesus menunggu respons dari murid-murid-Nya dan berharap mereka peduli, tidak memikirkan dan mementingkan diri sendiri saja.
Bukannya menunjukkan kepeduliaan, murid-murid justru mengkritisi kepedulian Yesus itu dengan mengemukakan persoalan: bagaimana mereka dapat memenuhi kebutuhan orang sebanyak itu. Ternyata, Yesus justru bertindak dengan bermodalkan apa yang ada pada mereka. Ia mengucap syukur atas tujuh ketul roti dan beberapa ekor ikan, memecah-mecahkan roti dan memberikan kepada para murid agar dibagikan kepada orang banyak.
Saudara, sudahkah kita juga belajar bertanggung-jawab di dalam segala hal atau sebaliknya, kita melemparkan tanggung jawab kepada orang Iain karena kita tidak mau direpotkan? Salah satu sikap terpuji yang diinginkan dari seseorang adalah bertanggungjawab di dalam pekerjaan, pelayanan dan rumah tangga. Begitu sering kita temukan orang-orang yang tidak bertanggung-jawab. Ada lelaki yang berani menikah tapi mengabaikan tanggung-jawab terhadap istri dan anaknya. Ada juga orang yang tidak bertanggungjawab terhadap pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. Di dalam pelayanan pun masih banyak orang yang tidak bertanggung-jawab: saat jadwal pelayanan sudah dibuat, yang bersangkutan seenaknya saja tidak hadir tanpa ada pemberitahuan. Marilah kita belajar bertanggungjawab seperti yang telah diteladankan oleh Yesus. Mulailah dari diri kita sendiri. Bertanggung-jawab artinya setia kepada tugas dan kewajiban yang dipercayakan kepada kita.
KJ. 298 : 4,5
Doa : (Tuhan, terima kasih untuk tugas yang di percayakan padaku. Tuntunlah aku untuk bertanggung jawab atasnya)
MINGGU V PRAPASKAH
Selasa, 15 Maret 2022
Renungan Malam
KJ. 439 : 1,2 – Berdoa
TEMPAT BASAH ATAU KERING
Markus 8 : 14 – 21
Pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Dua belas bakul”. Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Tujuh bakul” (ay. 19-20)
Orang biasa menggunakan istilah “tempat basah” dan “tempat kering” untuk menggambarkan tempat di mana seseorang mendapatkan uang atau materi. Jika disuruh untuk memilih, orang pada umumnya lebih suka bekerja di “tempat basah,” bahkan yang basah kuyup sekalian! ini sangat manusiawi karena semua orang memiliki sederet kebutuhan yang harus dipenuhi dalam hidupnya.
Kuasa Tuhan tidak mengenal “tempat basah” atau “tempat kering.” Bukankah Ia berkuasa membuat gunung batu mengeluarkan air dan sanggup memberi makan 5000 orang hanya dari 5 ketul roti den 2 ekor ikan? Kita perlu memahami apa maksud Tuhan Yesus ketika ia berbicara kepada murid-murid-Nya dalam bacaan ini. Saat itu, Yesus mencela murid-murid-Nya yang mempermasalahkan soal tidak adanya roti yang hendak mereka makan. Mereka baru saja menyaksikan bagaimana Yesus memberi makan 5000 orang dan 4000 orang dengan roti dan ikan yang jumlahnya tak seberapa. Akan tetapi kelihatannya, pengalaman iman ini tidak cukup meyakinkan mereka akan kuasa pemeliharaan Allah yang ajaib. Oleh karena kedegilan hati, mereka tidak menyadari sepenuhnya bahwa Allah sanggup melakukan apa yang tidak mungkin dan mustahil bagi manusia.
Janganlah kita membatasi kuasa Allah dengan pikiran kita yang terbatas. Tuhan berjanji bahwa Ia akan memelihara kita. Ia tidak akan pernah membiarkan anak-anak-Nya dan juga hamba-hambaNya meminta-minta. Kuncinya, jangan meragukan kuasa Allah. Percayalah sepenuhnya pada kuasa dan pemeliharaan-Nya. Lihatlah kembaIi kepada pengalaman di masa lalu, di mana Tuhan menyatakan pertolongan-Nya dalam kehidupan kita. Kasih dan kuasa-Nya masih tetap sama. Dia tidak pernah dan tidak akan berubah. Pengalaman bersama Tuhan pada masa lalu seharusnya semakin meneguhkan iman kita untuk percaya kepada-Nya.
KJ. 439 : 3,4
Doa : (Tuhan, ampuni aku yang seringkali melupakan pertolongan dan kuasa-Mu yang sudah dialami pada masa lalu)
