HARI MINGGU II SESUDAH PENTAKOSTA
Minggu, 14 Juni 2020

Renungan Pagi

KJ. 396a : 1 – BERDOA

TEPATI JANJIMU

Kejadian 31 : 43 50

“…. Allah juga yang menjadi saksi antara aku dan engkau.” (ay. 50)

Ada kata-kata mutiara yang mengatakan bahwa “Janji merupakan sebuah hutang yang harus dibayar”. Janji memiliki makna yang sangat mendalam, karena merupakan salah satu tolak ukur penilaian seberapa besar seseorang dapat dipercaya. Janji bagaikan sebuah hutang dimana ada hak dan kewajiban yang harus kita penuhi sebagai pembuat janji. Yang menjadi masalah adalah manusia seringkali membuat janji tetapi mudah juga untuk mengingkarinya. Hampir tiap hari kita mengobral janji, baik janji-janji yang sederhana maupun yang serius. Namun demikian, apakah kita sudah menepatinya atau sekadar omdo (omong doang)?

   Laban dan Yakub sepakat untuk membuka lembaran baru kehidupan mereka dengan mengikat sebuah perjanjian. Simbol dari perjanjian itu adalah sebuah timbunan batu yang dinamakan oleh Laban Yegar-Sahaduta tetapi oleh Yakub dinamakan Galed. Dalam perjanjian itu, Laban meminta agar Yakub menjadi suami dan ayah yang baik. Dia pun melarangnya mengambil istri lain lagi. Mereka juga berjanji untuk tidak merencanakan perbuatan jahat satu dengan lainnya. Lewat perjanjian ini hubungan silahturami antara Yakub dan Laban terjalin kembali. Dalam perjanjian’ini pun, Laban dan Yakub mengundang Allah untuk menjadi saksi dari kesepakatan yang mereka buat dan mempersembahkan korban sembelihan sebagai simbol perdamaian.

   Janji memang sangat mudah diucapkan tetapi seringkali sulit untuk ditepati. Oleh sebab itu, yang lebih bernilai dari sebuah janji bukanlah kata-kata, tapi sebuah tindakan. Tuhan tidak pernah ingkar janji. Janji Tuhan nyata dalam kasih setia-Nya melalui pengorbanan dan keselamatan bagi umat manusia. Lalu, bagaimana dengan kita? Janji tinggal janji. Seringkali kita mengumbar janji kepada Tuhan untuk berubah, bertobat dan setia tetapi apakah itu sudah dilakukan? Sudahkah kita taat dan setia terhadap janji untuk melakukan ibadah aktual sehari-hari di tengah kehidupan pekerjaan, keluarga, perkawinan, pendidikan, usaha dan pelayanan? Marilah kita hidup dalam ketaatan dan kesetiaan menjalankan ibadah, tugas dan tanggungjawab yang dijanjikan kepada Tuhan dan sesama.

KJ. 369a : 2, 3

Doa : (Tuhan tolong bimbinglah kami agar dapat bertanggungjawab penuh atas setiap ucapan. Amin)

HARI MINGGU II SESUDAH PENTAKOSTA
Minggu, 14 Juni 2020

Renungan Malam

KJ. 160 : 1, 2 – BERDOA

BERSYUKUR DAN MERAYAKAN PERDAMAIAN

Kejadian 31 : 51 – 55

“Dan Yakub mempersembahkan korban sembelihan di gunung itu. Ia mengundang makan sanak saudaranya, lalu mereka makan.. ” (ay. 54)

Bacaan Alkitab malam ini masih tentang ikatan perjanjian damai antara Yakub dan Laban di pegunungan Gilead. Sebagaimana dikisahkan oleh penulis kitab Kejadian, hubungan Yakub dan Laban selama di Haran mengalami pasang-surut. Berkali-kali Laban berusaha berbuat licik kepada Yakub. Namun demikian, kelicikan Laban ternyata tidak dapat menandingi kecerdikan Yakub. Hubungan keduanya semakin memanas ketika Yakub memutuskan pulang ke negerinya secara diam-diam dan dia membawa serta keluarganya serta harta yang didapatkannya di Haran. Walaupun Laban sangat emosional terhadap Yakub, namun dia tidak bisa berbuat banyak. Tuhan sudah memperingatkan agar Laban tidak berkata dan berlaku jahat kepada Yakub. Tidak ada pilihan lain, Laban mengalah karena dia tidak mau berurusan dengan Tuhan yang disembah Yakub. Ia memilih untuk membangun perjanjian dengan Yakub. Jelas bahwa Tuhan berprakarsa dalam perdamaian Yakub dan Laban. Setelah perjanjian damai itu, Yakub mempersembahkan korban sembelihan. Korban sembelihan tersebut sebagai tanda bahwa ia bersyukur kepada Tuhan dan merayakan perdamaian yang telah terjadi. Tuhan menjadi saksi dari perdamaian tersebut.

   Ibadah yang kita lakukan adalah juga merupakan perayaan syukur atas perdamaian yang diprakarsai dan dikerjakan Allah melalui Yesus Kristus. Melalui Yesus Kritsus, Allah mendamaikan diri-Nya dengan manusia. Karena itu manusia tidak lagi menjadi seteru Allah, melainkan menjadi anak-anak-Nya yang menerima anugerah keselamatan. Tuhan telah mendamaikan diri-Nya dengan kita. Mari mengungkapkan syukur melalui ibadah ritual yang kita selenggarakan. Mari bersyukur juga melalui ibadah aktual, yaitu selalu hidup dalam perdamaian dengan semua orang bahkan dengan seluruh alam ciptaan Tuhan. Wabah Covid-19 semakin menyadarkan kita, betapa hidup dalam perdamaian dan kesatuan dengan sesama manusia sungguh sangat penting. Hanya dengan berdamai dan bersatu seraya tetap mengandalkan Tuhan, kita bisa mengatasi wabah Covid-19.

GB. 126 : 1,2

Doa : (Tuhan, kami bersyukur atas perdamaian yang telah Engkau wujudkan melalui Yesus Kristus. Biarlah kami dapat merayakan perdamaian dengan hidup dalam damai seorang terhadap yang lain. Amin)

Scroll to Top