MINGGU XXIII SESUDAH PENTAKOSTA
Jumat, 13 November 2020

Renungan Pagi

GB. 101 : 1 – Berdoa

MISI KEHAMBAAN

Yesaya 42 : 1 – 4

“Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku…” (ay. 1a)

Dalam penghayatan atas panggilan orang percaya, dikenal pembedaan istilah yang tegas antara “pelayan yang memimpin” dan “pemimpin yang melayani”. Kedua istilah ini sejatinya tidak terpisahkan dan membentuk kesatuan panggilan serta pengutusan seorang pelayan Tuhan. Secara teologis praktis, ketika dipertanyakan, mana yang secara Alkitabiah terlebih dulu ada antara “melayani” dan “memimpin? Orang biasanya akan mengatakan, bahwa kita dipanggil pertama-tama untuk melayani dan menjadi pelayan atau seorang hamba, baru kemudian menjadi pemimpin. Sering disebut, bahwa misi kehambaan adalah given (anugerah). Sementara misi kepemimpinan adalah bentukan dari proses pematangan dan pendewasaan menjalani tugas-tugas sebagai pelayan atau hamba Tuhan.
 
Hamba Tuhan yang digambarkan di sini adalah orang pilihan-Nya. Karena ia diperkenankan Tuhan maka Roh-Nya bekerja atasnya (ay.1). Misi kehambaannya adalah menyatakan hukum-Nya, yaitu tata pemerintahan Tuhan. Di mana Tuhan meraja, maka kasih, keadilan dan solidaritas menjadi laku yang dihidupi umat. Misi ini dijalankan dengan senyap, artinya tanpa suara keras memaksa-maksa. Misi ini sering dicibir bagaikan ‘buluh yang patah” atau “sumbu yang pudar”. Mengapa? Karena terhadap umat yang tegar tengkuk, maka seharusnya alat yang dipakai adalah kayu atau besi yang kuat, ataupun api besar yang menghanguskan.
 
Namun demikian Roh Tuhan memberi jaminan, bahwa sumbu sekalipun akan pudar, dan buluh yang terlihat rapuh tidak akan patah. Misi hamba Tuhan ini adalah pembaruan hati. Karena itu caranya pun menyentuh hati.

GB. 101 : 2

Doa : (Tolong bentuklah kami Tuhan menjadi hamba-Mu yang berkenan dan setia)

MINGGU XXIII SESUDAH PENTAKOSTA
Jumat, 13 November 2020

Renungan Malam

GB. 252 : 1, 2 – Berdoa

AKU PUN SANG PENYELAMAT

Yesaya 42 : 5 – 9

“Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan…” (ay. 6a)

Pemulihan Tuhan sedang terjadi atas umat-Nya. Setelah mereka menjadi hamba Tuhan yang melaksanakan misi kehambaan, kini umat dipanggil untuk melakukan tugas penyelamatan (ay.6a). Misi penyelamatan yang dilakukan umat ini telah diikat oleh ikatan perjanjian antara Tuhan dan umat-Nya. Bahasa Ibrani “perjanjian” adalah karat berit yang artinya “memotong”. Melalui ritus memotong anak domba, kedua pihak yang mengikat janji akan berikrar setia selamanya. Sebaliknya, ketidaksetiaan hanya akan berakibat fatal, yaitu kematian seperti domba yang disembelih itu. Pertanyaannya, siapa yang tidak setia? Di sini umat yang sering berlaku tidak setia. Umat ungkir dan memberontak terhadap Tuhan.
 
Panggilan untuk setia terus dilakukan Tuhan di sepanjang lintasan sejarah. Tujuan Tuhan hanya satu, yaitu agar umat tidak melupakan misi penyelamatan yang telah diamanatkan kepada mereka. Tugas penyelamatan ini diterangkan Yesaya sebagai misi “menjadi terang”, “membuka mata yang buta”, “mengeluarkan orang hukuman” dan “mengeluarkan orang dari penjara”. Secara keseluruhan tugas penyelamatan adalah misi pembebasan. Allah adalah Sang pembebas umat-Nya. Karena itu la menghendaki, agar umat juga mengerjakan visi-Nya ini dalam laku pembebasan atas sesama yang secara fisik maupun kejiwaan menderita karena terbelenggu oleh berbagai pembatasan.
 
Penyelamatan Allah tidak eksklusif bagi umat semata. Allah ingin agar setelah mengalami keselamatan, umat pun berlaku sebagai sang penyelamat dalam sikap kebenaran dan kasih bagi sesamanya yang menderita.

GB. 252 : 3, 5

Doa : (Ya Tuhan, tolong jadikan kami sebagai pembebas bagi sesama yang menderita, melalui laku hidup yang sesuai Firman-Mu dan kesediaan diri untuk berkorban dengan tutus)

Scroll to Top