MINGGU I SESUDAH EPIFANI
Rabu, 13 Januari 2021

Renungan Pagi

KJ. 69 : 1, 2, 3 – Berdoa

MERDEKA DARI BANALITAS : MELIHAT KEMBALI KEHADIRAN TUHAN DI ALAM

Mazmur 104 : 19 – 21

Engkau yang telah membuat bulan menjadi penentu waktu, matahari yang tahu akan saat terbenamnya (ay. 19)

Jacques Doukhan (1978) menyatakan, bahwa ayat-ayat dari Mazmur 104 berisikan tema paralel dari Kisah Penciptaan di Kejadian 1-2. Doukhan menjelaskan hal tersebut sebagaimana berikut ini. Hari pertama : terang (Mzm.104:2a). Hari kedua : cakrawala (Mzm.104:2b-4). Hari ketiga : kemunculan tanah; pembentukan tanaman (Mzm. 104:5-18), Hari keempat : cahaya guna menunjukan musim dan waktu (Mzm.104:19-23). Hari kelima : penyebutan hewan-hewan, burung dan binatang di laut (Mzm. 104:24-26). Hari keenam : makanan untuk hewan dan manusia; anugerah kehidupan bagi hewan dan manusia (Mzm. 104:27-30); Hari ketujuh : kemuliaan Tuhan (Mzm.104:31-32).
 
Pemazmur menjadikan Mazmur 104 ini untuk mengajak para pembaca menuju ke dalaman Kisah Penciptaan yang telah menjadi biasa atau banal. Banalitas Kisah Penciptaan membuat, seolah-olah, setiap bagian dari cerita tersebut telah dikuasai, dimengerti dan dihayati. Padahal, tidak setiap bagian dari Kisah Penciptaan dihayati.
 
Karena itu, bacaan ini mengajak kita merenungkan Tuhan di dalam kompleksitas penciptaan. Tuhan mencipta dan memelihara ciptaan-Nya. Tuhan menghadirkan manajemen hidup dan pola kehidupan berdasarkan penciptaan. Misalnya, musim dingin menata dan menyusun pola hidup bagi manusia yang tinggal di wilayah yang memiliki keadaan iklim tersebut. Ini berarti setiap orang menjalani kehidupan mereka di dalam rancangan Tuhan.
 
Meskipun demikian, manusia memiliki kehendak bebas (free will). Kehendak bebas itu semakin tidak terkontrol, bahkan menguasai diri manusia sendiri. Salah satu akibatnya, kehendak bebas tersebut telah mengubah hutan biodiversitas menjadi hutan beton dan hutan sawit. Jiwa pada setiap manusia yang dikuasai oleh kehendak bebas tersebut menjadi tertindas. Jiwa itu memerIukan pertolongan Tuhan untuk dibasuh, disegarkan dan dibimbing oleh hikmat-Nya. Kitab Mazmur dikenal sebagai Kitab Hikmat yang memiliki tujuan tersebut.

KJ. 69 : 4, 5, 6, 7

Doa : (Bapa, mohon pulihkan kemanusiaan kami sebagai Citra-Mu yang dipanggil untuk memelihara alam ciptaan-Mu)

MINGGU I SESUDAH EPIFANI
Rabu, 13 Januari 2021

Renungan Malam

KJ. 327 : 1, 2 – Berdoa

BODY CLOCK : MANAJEMEN WAKTU DARI TUHAN

Mazmur 104 : 22 – 23

Manusia pun keluarlah ke pekerjaannya, dan ke usahanya sampai petang (ay. 23)

Kisah Penciptaan bukan hanya tentang membuat sesuatu ada dan cara memeliharanya, tetapi juga mengenai sistim topang-menopang kehidupan. Pada renungan Selasa malam yang lalu, sistim topang-menopang kehidupan tersebut sudah dibahas sedikit. Perikop malam ini kembali menyingkapkan sistim tersebut. Sistim tersebut penting, tetapi sering diremehkan dan dilupakan, karena manusia lebih mengikuti kehendak bebas mereka atau terpenjara di dalam banalitas rutinitas. Banyak hal dilakukan orang dalam dua situasi : kehendak bebas dan banalitas rutinitas. Contoh: rutinitas formal pebisnis yang memiliki sejumlah agenda rapat sampai tengah malam, dan kegiatan informal seperti kumpul-kumpul di warung atau cafe sampai larut malam, bahkan pagi baru pulang kerumah, dll.
 
Firman Tuhan malam ini menyingkapkan sistim topang-menopang kehidupan dalam bentuk manajemen waktu dan fungsinya. Secara khusus disebutkan, bahwa matahari terbit itu menjadi penanda bagi manusia untuk bekerja. Manusia kembali saat petang, ketika matahari mulai terbenam. Hal ini sangat sederhana dan sepele. Namun demikian, hal sederhana dan sepele ini menyingkapkan suatu sistim topang-menopang kehidupan.
 
Dunia kedokteran dapat menolong kita memahami sistim tersebut. Dari dunia kedokteran, kita mengenal frase body clock yang menjelaskan, bahwa tubuh manusia sebagai ciptaan Tuhan tersusun di dalam sistim topang-menopang kehidupan yang saling mempengaruhi. Dari body clock, setiap kita diajarkan tentang manajemen waktu tubuh. Misalnya : pagi hari adalah waktu yang baik untuk bekerja, dan malam saatnya istirahat. Sistim topang-menopang tersebut membuat tubuh manusia menjadi sehat dan berfungsi normal sesuai jadwal, tapi sering dilanggar. Akibatnya, kesehatan dan aktivitas terganggu, serta keuangan terkuras untuk kesehatan. Karena itu, Firman Tuhan mengajak kita untuk menghargai sistim tersebut. Kehendak bebas dan banalitas rutinitas perlu ditinjau dengan menggunakan sistim tersebut.

KJ. 327 : 4, 5

Doa : (Bapa, kami memerlukan dan memohon hikmat-Mu untuk mengelola kehendak bebas serta mengusahkan diri keluar dari banalitas rutinitas, juga tidak meremehkan sistim topang menopang dalam tubuh)

Scroll to Top