MINGGU XXIII SESUDAH PENTAKOSTA
Kamis, 12 November 2020

Renungan Pagi

GB. 214 : 1, 2 – Berdoa

SANG PEMBEBAS

Yesaya 41 : 1 – 7

“Yang seorang menolong yang lain dan berkata kepada temannya: ‘Kuatkanlah hatimu!’” (ay. 6)

Kedaulatan Allah atas alam kehidupan mengusung keyakinan, bahwa apa pun yang berlangsung dalam dunia ini tidak ada yang luput dari pengetahuan-Nya. Allah berdaulat atas hidup bangsa-bangsa. Kedaulatan Allah tidak hanya atas Israel sebagai umat-Nya. Kedaulatan Allah berlaku pula bagi bangsa-bangsa lain yang allahnya bukan TUHAN. Di sinilah Tuhan dikenal sebagai Allah bangsa-bangsa. la dapat menggerakkan bangsa mana pun untuk mengerjakan rencana-Nya.
 
Inilah keyakinan Yesaya ketika berkata, “Siapakah yang menggerakkan dia dari timur”. Dia yang dari timur adalah menunjuk kepada bangsa Persia yang melaksanakan misi pembebasan Allah atas Yehuda. Siapakah Persia di mata Israel? Mereka bukan termasuk umat Allah. Mengapa Allah memakai Persia? Inilah kedaulatan Allah. Dalam kedaulatan-Nya, Allah sering memakai rute lain yang sering berbeda dari yang biasa. Rute Allah kali ini adalah memakai sang timur, Persia dan Koresh untuk menghadirkan pemulihan bagi umat-Nya. Persia dan Koresh adalah Sang Pembebas dari Allah untuk melaksanakan rancangan damai sejahtera bagi umat-Nya.
 
Ketika Sang Pembebas dari AIlah melaksanakan misinya, maka umat belajar kembali tentang kemurahan Allah yang berlaku bagi semua bangsa. Tanpa terkecuali bahwa semua bangsa adalah umat Allah. Mereka juga belajar kembali apa artinya solidaritas dengan peka menolong orang Iain dan berlaku saling menguatkan di masa derita dan kesesakan (ay.6).

GB. 214 : 3

Doa : (Mohon bentuklah kami ya Tuhan, menjadi sang pembebas bagi sesama yang membutuhkan penguatan)

MINGGU XXIII SESUDAH PENTAKOSTA
Kamis, 12 November 2020

Renungan Malam

KJ. 400 : 1, 2 – Berdoa

BERANI TAKUT MATI

Yesaya 41 : 8 – 16

“Janganlah takut, Akulah yang akan menolong engkau” (ay. 13b)

Salah satu bagian dari kerapuhan manusia adalah bisa mati. Kematian adalah hal yang paling eksistensial dari manusia. Namun demikian, apakah kita takut mati? Terlepas bahwa takut bersifat manusiawi, seorang filsuf Jerman Mattin Heidegger pernah berkata, “berani takut mati”. Berani takut mati adalah keinginan kuat untuk menjalani hidup yang otentik, “hidup yang sungguh-sungguh hidup”. Jika tahu, bahwa besok akan mati, maka hidup di hari ini dijalani dengan sungguh-sungguh dalam keterlibatan untuk mengusahakan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan. Mati bukan sesuatu yang menakutkan, sebab kita menjalani hidup dengan sungguh-sungguh dan berkualitas.
 
Dalam usaha membarui Israel, Yesaya mengingatkan akan status baru mereka, yaitu sebagai hamba TUHAN. Status ini sekaligus mengungkap misi kehambaan Israel, ketika mereka berada dalam relasi dengan yang Iain. Bahwa menjadi besar berarti menjadi hamba atas yang Iain. Namun demikian, melakukan misi ini tidak mudah. Selain menghadapi tantangan dari diri sendiri berupa egoisme dan merasa diri kecil bagai cacing atau ulat (ay. 14), maka bangsa-bangsa di sekitar Israel dapat menjadi ancaman tersendiri yang membuat mereka takut dan bimbang (ay. 10). Dalam rasa yang tidak menentu ini, Allah hadir meneguhkan panggilan dan pengutusan Israel melaksanakan misi kehambaannya sekaligus disertai janji penyertaan, agar di bawah bayang-bayang kematian sekali-pun, mereka terus mengabdi, melayani dengan otentik juga berkualitas.
 
Berani takut mati adalah ajakan untuk memaknai hidup ini begitu berharga. Dengan demikian kita selalu hidup otentik mengusahakan kebaikan bagi sesama.

KJ. 400 : 3, 4

Doa : (Mohon teguhkan iman dan kerja kami ya Tuhan, agar terus mengusahakan kebaikan)

Scroll to Top