HARI MINGGU VI SESUDAH EPIFANI
Minggu, 13 Februari 2022
Renungan Pagi
KJ. 424 : 1 – Berdoa
KEINGINAN YANG MEMIKAT
Yakobus 1 : 12 – 15
Tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri… (ay.14)
Kehidupan kita diliputi oleh berbagai keinginan. Ada yang mengatakan keinginan itulah yang membuat manusia “hidup dan berkarya.” Sesuatu yang diinginkan akan mendorong adanya tindakan untuk mewujudkannya. Seseorang yang ingin mendapat pekerjaan membuat ia mendorong dirinya ke arah itu. Semakin kuat keinginannya semakin besar pula dorongan yang muncul dan tindakan yang dilakukan.
Yakobus menasihati umat Tuhan di perantauan agar berhati-hati dalam upaya mewujudkan keinginan mereka. Sekalipun keinginan mereka positif belum tentu masyarakat di sekitar memandangnya demikian. Apabila keinginan itu begitu memikat maka upaya untuk mewujudkannya juga semakin kuat. Dan apabila dipaksakan akan menimbulkan permasalahan serius, yang dapat mendatangkan pencobaan (band.ay.14). Umat Tuhan di perantauan perlu mempertimbangkan kondisi sosial di sekitarnya. Relasi sosial yang baik akan membuat mereka lebih mudah diterima. Apa yang menjadi keinginan mereka relatif menjadi lebih mudah untuk direalisasikan. Setidaknya menghindari munculnya “pencobaan” yang dapat melahirkan dosa karena menimbulkan kesan negatif terhadap kekristenan.
Kita hidup di tengah masyarakat yang beragam. Karena itu upaya untuk mewujudkan keinginan kita, seberapa memikatnya sekalipun, perlu mempertimbangkan kondisi masyarakat sekitar. Misalnya dalam pelaksanaan bakti sosial, pasar murah, vaksinasi dan pembangunan gedung gereja. Semua hal itu tentu sangat positif. Tetapi jika tidak mempertimbangkan situasi dan kondisi masyarakat sekitar makan semua keinginan kita itu dapat melahirkan reaksi yang negatif. Kekonsistenan temodai oleh keinginan mewujudkannya.
KJ. 424 : 2
Doa : (Ya Tuhan, berilah kami hikmat dalam mewujudkan keinginan agar menjadi kesaksian yang memuliakan nama-Mu)
HARI MINGGU VI SESUDAH EPIFANI
Minggu, 13 Februari 2022
Renungan Malam
GB. 87 : 1,2 – Berdoa
MENJADI ANAK SULUNG
Yakobus 1 : 16 – 18
“….menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya” (ay.18)
Menjadi anak sulung di antara semua ciptaan membuat kita berada pada posisi yang utama atas segala ciptaan Tuhan lainnya (ay. 18). Ciptaan Tuhan lainnya juga tidak kalah indahnya. Ada berbagai bunga dengan warna yang indah dan aroma wangi yang sangat harum. Ada berbagai jenis hewan yang kekuatannya melebihi kemampuan manusia. Bumi dan alam semesta yang begitu luas membuat manusia nampak begitu kecil dan seakan tidak berarti. Namun manusia dengan akal budi yang dianugerahkan Tuhan, manusia dimampukan untuk mengelola ciptaan Iainnya itu. Begitulah manusia menjadi anak sulung dari semua ciptaan-Nya.
Yakobus mengingatkan hal itu kepada umat Tuhan di perantauan. Status mereka sebagai orang percaya membuat mereka tidak hanya sebagai “anak sulung dari semua ciptaan” tetapi juga sasaran dari anugerah kasih Allah. Bukan sembarang anugerah tetapi “anugerah yang sempurna” sebagai pemberian yang baik yang datang dari atas. lman kepada Yesus Kristus membuat semuanya itu dicurahkan bagi mereka. Anugerah keselamatan menjadi “hak” yang patut diperoleh sebagai anak sulung. Di pihak lain, sebagaimana layaknya seorang anak sulung yang harus menaungi yang Iainnya, maka mereka juga harus memancarkan anugerah yang diterimanya bagi semua yang ada di sekitarnya.
Sebagai pengikut Kristus kita juga dijadikan “anak sulung” yang beroleh anugerah-Nya yang sempurna. Pemberian yang baik yang datang dari atas itu harus kita syukuri, dengan hidup kita yang memancarkan anugerah itu dalam bentuk kesaksian hidup bagi masyarakat sekitar dan dapat dinikmati juga oleh banyak orang sehingga Kristus dikenal dan dipermuliakan.
GB. 87 : 3
Doa : (Ya Tuhan, kuatkan kami untuk menjadi alat-Mu yang memancarkan anugerah-Mu bagi banyak orang)
