MINGGU ADVEN II
Sabtu, 12 Desember 2020

Renungan Pagi

GB. 128 : 1, 2 – Berdoa

TUHAN YESUS MENGASIHI ORANG BERDOSA

Markus 2 : 13 – 17

Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (ay. 17)

Kesombongan rohani kerap membuat pemuka agama Yahudi menghakimi tindakan Tuhan Yesus. Kebencian membutakan mata iman mereka, sehingga menilai orang lain secara hitam putih. Mereka pokoke menganggap semua yang dilakukan Tuhan Yesus bertentangan dengan hukum Taurat. Mereka hanya tahu formula satu-satunya, bahwa orang berdosa harus datang ke Bait Allah dengan persembahannya dan tidak lagi berkawan dengan para pendosa.
 
Lewi, pemungut cukai diterima menjadi bagian dari persekutuan murid Tuhan Yesus. Ajakan Tuhan Yesus ditanggapi dengan gembira. Pesta syukur yang dilakukan di rumah Lewi dengan kehadiran banyak orang, menandakan perubahan hidup mendasar. Tuhan Yesus merespons dengan penuh cinta kasih penyelenggaraan jamuan itu. Di lain pihak, sikap Tuhan Yesus makan dengan pemungut cukai dan para pendosa dipandang negatif oleh orang- orang Farisi dan ahi-ahli Taurat. Pemungut cukai bagi mereka adalah kaki tangan penjajah yang dianggap kafir dan tidak pernah menghormati hari Sabat. Pemungut cukai dengan para pendosa dianggap najis dan tidak layak sehidangan dengan mereka. Tuhan Yesus menanggapi penilaian negatif itu dengan menjelaskan tujuan utama kedatangan-Nya: “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (ay.17b).
 
Kasih Tuhan Yesus ditujukan kepada semua orang. Mustahil seseorang dapat dibenarkan di hadapan Bapa, jika mereka tidak percaya kasih-Nya yang ajaib. Sering orang berujar, “Kami tidak bermusuhan, hanya beda pemikiran!”. Tragisnya, beda pemikiran itu merembet pada kontak fisik dan sengketa hukum di pengadilan. Beda pemikiran yang diikuti kebencian mendalam. Sungguh sangat memalukan jika sebagai sesama pengikut Tuhan Yesus, kita mempertontonkan pertengkaran di muka umum. Ayo datang pada Tuhan Yesus, Tabib yang memulihkan sakit penyakit manusia. Bersama Tuhan Yesus selalu ada damai sejahtera.

GB. 128 : 3, 4

Doa : (Bapa, mohon ampunilah kata-kata kami yang merusak hidup orang Iain. Mohon ampunilah, jika sampai hari ini dendam masih membara. Tolong ya Roh Kudus, agar kami hidup dalam kasih Kristus)

MINGGU ADVEN II
Sabtu, 12 Desember 2020

Renungan Malam

KJ. 82 : 1, 4 – Berdoa

SUKACITA DALAM TUHAN

Markus 2 : 18 – 22

Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa” (ay. 19)

Berpuasa atau berpantang makan adalah kewajiban religius orang Yahudi. Puasa dan doa menjadi simbol kerendahan hati manusia di hadapan Allah yang menghendaki pertobatan dan ketaatan. Praktik puasa dilakukan pada hari raya Penghapusan Dosa (baca Im.16:29) seperti yang dilakukan murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi. Jika yang lain berpuasa, mengapa murid-murid Yesus tidak melakukannya? Pertanyaan tersebut disampaikan guna mencari tahu alasan utama para murid Tuhan Yesus tidak melakukan yang sama.
 
Penjelasan Tuhan Yesus sangat gamblang. Selama mempelai laki-laki bersama para murid, maka mereka tidak perlu berpuasa. Yesus menyebut diri-Nya sebagai Mempelai Laki-laki yang memiliki otoritas penuh dalam relasi dengan Allah Bapa. Kedatangan Tuhan Yesus sebagai Juruselamat memberi akses penuh bagi siapa saja yang memohon berkat Tuhan (baca Mrk. 11:24-25). Tuhan Yesus memberikan garansi, bahwa permintaan mereka dikabulkan termasuk hal pengampunan dosa. Tuhan Yesus menghendaki murid-murid-Nya mengalami sukacita penuh saat bersama-Nya dalam tugas pemberitaan Injil. Sukacita hidup bersama Tuhan Yesus menjadi utama, agar mereka bergiat dalam karya pelayanan. Hal yang baru tidak dapat disatukan dengan yang lama.
 
Berpuasa sebagai disiplin rohani jelas sangat baik untuk menjadikan kita bergantung pada kuasa Allah. Puasa sejatinya bukan bentuk pamer kerohanian guna memperoleh pujian manusia (baca Mat.6:16). Tuhan Yesus sendiri berpuasa sebelum terlibat dalam pelayanan penuh waktu (baca Mat.4:2). Rasul-rasul juga berdoa dan berpuasa untuk menguatkan para penatua yang berkarya di tengah jemaat Tuhan. Semoga dengan disiplin rohani ini, kita semakin mengasihi sesama dan berbagi sukacita dengan mereka yang dalam kesulitan hidup.

KJ. 82 : 6,8

Doa : (Terima kasih ya Tuhan Yesus, sebab bersama-Mu kami menerima sukacita penuh. Kami percaya janji Tuhan Yesus. Mohon jadikan kami menjadi saksi-Mu yang setia dan mau berbagi sukacita dari-Mu)

Scroll to Top