MINGGU XXIII SESUDAH PENTAKOSTA
Rabu, 11 November 2020

Renungan Pagi

KJ. 52 : 1, 2 – Berdoa

CUMA SATU YANG KEKAL, FIRMAN ALLAH

Yesaya 40 : 1 – 8

“…tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya” (ay. 8b)

Kerentanan dan kerapuhan menjadi tema penting dalam percakapan tentang manusia pada satu dasawarsa terakhir. Di satu sisi, hal ini baik karena manusia semakin sadar, bahwa ia ternyata makhluk yang tak sempurna. Di sisi lain, kesadaran itu mengungkap sebuah kenyataan, bahwa hidup di hari ini sarat dengan tantangan berupa bencana dan penderitaan, contohnya akibat dari pandemi Covid- 19. Manusia tak kuasa atas Covid-19, karena pada dirinya ia rentan dan rapuh. Seolah-olah rentan dan rapuh adalah dua hal yang Allah tanamkan sejak manusia diciptakan.
 
Kerentanan dan kerapuhan adalah dua hal yang juga diungkap oleh Yesaya. Dalam rangka berbicara tentang keselamatan bagi Yehuda – setelah mereka mengalami hukuman pembuangan -. Yesaya pertama-tama mengingatkan tentang hakikat manusia sebagai makhluk yang tidak kekal. Simbolisasi ketidakkekalan itu adalah “rumput” dan “bunga”, yang akan kering dan layu. ltulah nasib manusia yang rentan, rapuh dan bisa mati. Sekalipun demikian, Allah memberi manusia bagian dari “hidup ilahi”, yaitu nafas-Nya (ay.7). Nafas atau Roh Allah inilah yang membuat manusia selalu hidup akrab dengan firman-Nya, dan terus rindu taat serta memuIiakan-Nya.
 
Tantangan terbesar untuk hidup di dalam firman-Nya yang kekal adalah diri manusia sendiri, yaitu jalan hidup yang tidak lurus (ay.3-5). Dengan manusia terus terarah pada firman Allah yang kekal, maka karya keselamatan Allah menjadi nyata.

KJ. 52 : 3

Doa : (Mohon teguhkanlah kami ya Allah dengan firman-Mu yang kekal dan Roh Kudus-Mu, agar selalu rindu hidup akrab, taat serta memuliakan-Mu)

MINGGU XXIII SESUDAH PENTAKOSTA
Rabu, 11 November 2020

Renungan Malam

KJ. 407 : 1, 2 – Berdoa

ALLAH, GEMBALA YANG BAIK

Yesaya 40 : 9 – 11

“Seperti seorang gombala la menggembalakan kawanan ternak-Nya…” (ay. 11a)

Salah satu penggambaran Allah yang dikenal oleh umat Israel adalah gembala yang baik. Metafora ini berasal dari dunia peternakan yang akrab dan menjadi bagian hari-hari hidup mereka. Seorang gembala adalah dia yang sangat mengasihi domba-domba peliharaannya. Tak jarang dalam menjaga kawanan domba, ia rela mengambil risiko berbahaya hingga mempertaruhkan nyawanya sendiri. Jika gembala dunia begitu penuh kasih merawat kawanan domba peliharaannya, begitulah Allah. la adalah gembala yang baik, yang membawa manusia sebagai kawanan domba menuju keselamatan.
 
Karya pembaruan Allah atas Yehuda, menepatkan umat Allah ini mempunyai status baru, yaitu sebagai pe bawa kabar baik (ay.9). Pembawa kabar baik adalah tugas menyampaikan berita tentang keselamatan yang Allah kerjakan kepada umat. Status ini hanya mungkin dijalankan bila umat hidup di dalam firman-Nya. Apa isi kabar baik itu? Kabar baik itu berisi dua hal. Pertama, pernyataan kedaulatan Allah sebagai sekutu umat-Nya (ay. 10). Kedua, penggembalaan Allah berlanjut terus melalui tindakan menghimpun, memangku dan menuntun umat-Nya (ay. 11).
 
Allah adalah gembala yang baik karena kasih setia-Nya menghimpun, memangku dan menuntun umat-Nya. Sejalan dengan itu, maka tugas umat adalah meneruskan peran kegembalaan Allah tersebut, relasi mereka bersama sesama lewat aksi belarasa, solidaritas dan damai sejahtera. Tugas kegembalaan adalah merawat isi hati Allah dalam perilaku hidup yang berkenan kepada-Nya.

KJ. 407 : 3, 4

Doa : (Mohon mampukan kami ya Allah menjalankan tugas sebagai gembala yang baik)

Scroll to Top