MINGGU I SESUDAH EPIFANI
Senin, 11 Januari 2021

Renungan Pagi

KJ. 63 : 1 – Berdoa

BANALITAS ECOCIDE

Mazmur 104 : 10 – 12

Engkau yang melepas mata-mata air kedalam lembah-lembah, mengalir di antara gunung-gunung (ay. 10)

Tahun Baru selalu diulang. Suka cita perayaan Tahun Baru juga selalu terulang. Namun demikian, pergumulan, derita dan kepedihan juga terulang. Kerusakan hutan dan lautan juga terulang. Cara kita bereaksi terhadap pergumulan, derita dan kepedihan juga terulang. Inilah banalitas. Banalitas tidak hanya menggegoroti nilai, tetapi juga mengubah sesuatu yang jahat seperti kriminalitas menjadi hal yang lazim, Banalitas sungguh berbahaya.
 
Di tengah himpitan bahaya banalitas tersebut, Mazmur pagi ini mewartakan kepada kita, bahwa hanya Tuhan yang tidak dipengaruhi oleh banalitas. Kebaikan yang Tuhan lakukan -meski berulang-ulang- tetap suatu kebaikan. Tidak ada degradasi nilai terjadi. Pemazmur juga menyampaikan, bahwa di tengah banalitas yang membentuk setiap jiwa menjadi “tidak tergerak” terhadap ecocide (pembunuhan alam), Tuhan adalah mata air. Tuhan mengalirkan kesegaran bagi jiwa kita untuk membasuh dan menyegarkannya.
 
Ya, setiap jiwa yang dibentuk oleh banalitas memerlukan pembasuhan oleh Tuhan. Setiap jiwa memerlukan penyegaran. Penyegaran diperlukan agar hati, pikiran dan motorik kita dapat tergerak terhadap keserakahan atas hutan maupun lautan.
 
Mata air yang Tuhan ciptakan satu demi satu mulai menghilang. Hutan biodiversitas diganti oleh hutan beton dan hutan sawit. Keragaman hayati hilang. Padahal, hutan biodiversitas adalah daya topang kehidupan manusia. Udara segar dan keindahan biodiversitas menyampaikan misteri keagungan Tuhan. Namun demikian, itu semua mulai menghilang satu demi satu. Ecocide pun telah menjadi suatu banalitas: terus terulang dan dianggap lazim.
 
Pewartaan Firman Tuhan pagi ini mengajak kita untuk mengarahkan diri kepada Tuhan. Marilah kita juga menyerahkan diri kepada Tuhan. Sebab, hanya Tuhan saja yang tidak dapat di pengaruhi oleh banalitas. Kita pasti bisa keluar dari banalitas bersama Tuhan. Setiap kita perlu dan harus merdeka dari banalitas. Demikian pula halnya, sama seperti alam yang juga memerlukan pembebasan dari banalitas ecocide.

KJ. 63 : 2

Doa : (Mohon basuhlah jiwaku ya Bapa dan mampukan hati, pikiran serta motorikku tergerak untuk menjaga hutan biodiversitas dari keserakahan)

MINGGU I SESUDAH EPIFANI
Senin, 11 Januari 2021

Renungan Malam

KJ. 67 : 1, 2 – Berdoa

MELAWAN BANALITAS KESERAKAHAN DIRI

Mazmur 104 : 13

Engkau yang memberi minum gunung-gunung dari kamar-kamar loteng-Mu, bumi kenyang dari buah pekerjaan-Mu (ay. 13)

Di satu sisi, pekerjaan Tuhan sungguh agung. Hutan, laut dan semesta adalah saksi-Nya. Di sisi yang lain, manusia berusaha untuk menjadi agung. Bangunan pencakar langit menjadi saksinya. Perkembangan teknologi semi konduktor di bidang teknologi digital juga dapat disebut sebagai saksi keagungan Tuhan. Hasrat manusia untuk agung melalui pekerjaan mereka dikenal dengan istilah Homo Deus. Demikianlah Yuval Noah Harari, menyebut manusia agung tersebut sebagai “manusia Tuhan”. Sebenarnya, hasrat seperti itu adalah hal yang dekat dengan Kristianitas. Ungkapan seperti “Citra Allah”, “mimikri” (tindakan meniru) menjadi seperti Yesus, seperti Imitatio Christi ala Thomas a Kempis, dan Little Christs dari C.S.Lewis memberi petunjuk, bahwa hasrat untuk agung adalah manusiawi. Namun demikian, itu tidak sepenuhnya benar.
 
Firman Tuhan hari ini menyingkapkan, bahwa Keagungan Tuhan bukan sekadar mencipta (membuat sesuatu ada), tetapi juga memelihara ciptaan-Nya. Pemeliharaan Tuhan (Providentia Dei) dapat dilihat dari ungkapan “bumi kenyang dari buah pekerjaan-Mu”. Hal ini yang tidak dapat dilakukan oleh manusia. Pemeliharaan Tuhan itu adalah bentuk “creatio continua” (ciptaan yang berlangsung terus-menerus), setelah “creatio prima” (ciptaan utama) selesai dilakukan-Nya (Richard M. Davidson, 163).
 
Benar! Kristianitas mengajarkan, bahwa setiap manusia adalah Citra Allah, Imitatio Christi dan Little Christs. Namun demikian, Kristianitas tidak mengajarkan manusia untuk serakah, lalu merusak hutan, laut dan tanah melalui pekerjaan-pekerjaan yang mereka pandang agung itu. Kristianitas mengajarkan Citra Allah, Imitatio Christi dan Little Christs sebagai suatu pengakuan, bahwa manusia pada hakikatnya berasal dari TUHAN. Manusia terlempar ke dalam kehidupan dosa dan diingatkan terus-menerus tentang hakikatnya tersebut melalui ajaran tentang Citra Allah. Sebagai Citra Allah, manusia dipanggil untuk memelihara hutan, laut dan tanah yang diciptakan TUHAN (creatio continua). Citra Allah tidak dipanggil untuk serakah dan merusak hutan, laut dan tanah.

KJ. 67 : 3, 4

Doa : (TUHAN yang baik, pemeliharaan-Mu sungguh nyata. Mohon ajar kami untuk dapat memelihara hutan, laut dan tanah yang Engkau ciptakan)

Scroll to Top