MINGGU XVIII SESUDAH PENTAKOSTA
Sabtu, 10 Oktober 2020
Renungan Pagi
KJ. 407 : 1 – Berdoa
BERHATI-HATILAH!
Kisah Para Rasul 20 : 29 – 32
Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu … (ay. 32)
Sebelum berpisah, Paulus ketika berada di Miletus mengingatkan para penatua yang datang dari Efesus bahwa ada orang-orang luar yang akan merusak persekutuan jemaat Allah di sana setelah kepergiannya. Tantangan bukan hanya datang dari orang luar. Karena itu Paulus juga mengingatkan, bahwa ada juga beberapa orang dari dalam yang akan merusak persekutuan jemaat. Dengan ajaran palsu, mereka akan menarik murid-murid dari jalan kebenaran.
Atas kondisi yang akan dihadapi jemaat tersebut, Paulus dengan tegas menyatakan, agar berhati-hati dan berjaga-jaga! Selama tiga tahun, siang dan malam tanpa henti, Paulus membangun dan melayani dengan penuh cucuran air mata. Paulus tidak mau persekutuan yang telah dibangun dirusak oleh orang-orang yang mempunyai keinginan dan maksud yang jahat. Mereka ingin merusak persekutuan yang telah dibangun atas dasar Kasih Kristus. Oleh karena itu, Paulus menyerahkan persekutuan jemaat ini kepada Tuhan dan firman kasih karunia-Nya. Tuhan yang berkuasa membangun juga menganugerahkan kepada jemaat bagian yang sudah ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya (ay.32). Pesan Paulus ini bukan tanpa alasan. Sebab persekutuan jemaat sedang terancam oleh rencana jahat manusia, Paulus mengajak agar setiap orang menjaga diri dan berhati-hati terhadap setiap ajakan yang menyesatkan. Dengan demikian mereka mampu menangkal setiap perbuatan yang ingin memecah-belah persekutuan.
Tanpa sadar, kita juga diperhadapkan pada upaya pemecahan persekutuan jemaat. Oleh karena itu, ingatlah pesan Paulus untuk berhati-hati. Dengan berhati-hati kita memiliki hati yang bersekutu, membangun dan bersyukur. Itu adalah hati yang menyadari pentingnya persekutuan yang telah dibangun atas kasih karunia Tuhan Yesus. Mari menjaga persekutuan jemaat dari upaya perusakkan!
KJ. 407 : 3
Doa : (Tuhan Yesus, tolong jangan biarkan persekutuan kami dirusak oleh pengaruh dan keinginan yang jahat)
MINGGU XVIII SESUDAH PENTAKOSTA
Sabtu, 10 Oktober 2020
Renungan Malam
KJ. 346 : 1 – Berdoa
PERPISAHAN YANG MENGHIDUPKAN
Kisah Para Rasul 20 : 33 – 38
Mereka sangat berdukacita, terlebih-lebih karena ia katakan, bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Lalu mereka mengantar dia ke kapal (ay. 38)
Ada ungkapan yang mungkin pernah didengar yakni, “bukan perpisahan yang ku tangisi, namun pertemuan yang kusesali”. Makna ungkapan ini adalah tidak ada perpisahan tanpa perjumpaan. Dengan kata lain, setiap pertemuan, selalu ada perpisahan. Berani untuk berjumpa, berarti siap untuk berpisah. Kita tidak mungkin selamanya ada bersama sepanjang hidup. Sebagaimana Pengkhotbah katakan, bahwa “segala sesuatu ada masa dan waktunya” Pkh.3:1).
(Setelah berada di tengah-tengah jemaat Efesus sekian waktu Iamanya, tiba saatnya bagi Paulus untuk berpisah dengan mereka. Paulus meninggalkan Efesus karena masih harus mengunjungi dan melayani jemaat yang lain. Paulus harus tetap melanjutkan pemberitaan Kabar Sukacita Injil Keselamatan di tempat Iain. Kehadiran Paulus di Efesus sungguh berkesan dan bermakna. Pelayanan yang dilakukan secara terus menerus tanpa lelah memberikan hasil. Paulus berharap agar jemaat yang sudah dibangun, dijaga dan dipelihara supaya tidak dirusak oleh orang-orang yang tidak menginginkan. Perpisahan dengan Paulus membuat mereka menangis sambil memeluk dan menciumnya berulang-ulang. Kesedihan yang mendalam terjadi karena ungkapan Paulus, bahwa mereka tidak akan melihat mukanya Iagi.
Di satu sisi memang mereka “berdukacita” atas kepergian Paulus. Di sisi Iain, kepergian Paulus membuat jemaat di Efesus menjadi dewasa. Keteladanan yang ditunjukkan Paulus, membuka mata mereka untuk dapat berusaha mencukupi diri dan membantu orang-orang lemah. Ada kemandirian sesuai dengan yang diharapkan Paulus dari jemaat tersebut.
Perpisahan atau ditinggalkan oleh seseorang dalam konteks apapun seringkali dilihat sebagai hal yang menyedihkan dan menyakitkan. Padahal di balik peristiwa tersebut ada makna kemandirian. Kemandirian yang memampukan seseorang melakukan sesuatu yang selama ini tidak pernah dikerjakan. Dengan demikian menghidupkan potensi dirinya dalam bertindak dan berbuat sesuatu. ltu adalah perpisahan yang menghidupkan!
KJ. 346 : 3
Doa : (Ya Kristus, tolong ajar kami untuk memahami bahwa setiap perpisahan yang terjadi bukanlah akhir segala-galanya)
