HARI MINGGU I SESUDAH EPIFANI
Minggu, 10 Januari 2021
Renungan Pagi
KJ. 9 : 1 – Berdoa
DI BAWAH BAYANG-BAYANG BANALITAS
Mazmur 104 : 1 – 5
“Pujilah TUHAN, hai jiwaku” (ay. 1)
“Pujilah TUHAN, hai jiwaku” pasti sering kita dengar. “Sesuatu yang sering dilakukan atau berulang kali berlangsung adalah suatu banalitas”, demikian pandangan Hannah Arendt (1906-1975), seorang filsuf perempuan. Banalitas, di dalam pemikiran Arendt, menyingkapkan suatu degradasi nilai dari suatu praktik yang sering dilakukan berulang kali. Pelaku kriminalitas yang mengulang-ulang bertindak kriminal tidak memandang tindakan tersebut destruktif, tetapi kebutuhan dan kelaziman. Inilah banalitas tersebut.
Â
Setiap kita merenungkan “Pujilah TUHAN, haijiwaku!” di dalam banalitas. ltu berarti dua hal : pertama, degradasi nilai atas “Pujilah TUHAN, hai jiwaku!” mengintai setiap kita di saat merenungkan ungkapan di atas. Karena itu, ungkapan di atas tidak terasa “gregetnya”. Bahkan, masing-masing kita tidak tergetar oleh ungkapan itu. Kedua, setiap kita menyadari bayang-bayang banalitas itu dan kemudian berusaha untuk keluar darinya.
Â
Poin kedua adalah pilihan kita. Untuk itu, “Pujilah TUHAN, hai jiwaku!”, perlu diinternalisasi sebagai “suplemen” bagi jiwa dari setiap orang yang menyatakannya. Tanpa “suplemen” tersebut, jiwa kita tak segar dan tidak vital. Jiwa yang tak segar dan tidak vital menjalani hidup sehari-hari tanpa rasa peka, peduli, inisiatif, dan kreatif. Jiwa itu sudah dipenjara rutinitas dan dibentuk oleh praktik kehidupan yang berulang-ulang. Keserakahan tanpa belas kasih terhadap hutan dan laut menjadi tontonan setiap hari. Ketidak pedulian terhadap ecocide (pembunuhan alam) juga ditonton setiap hari. Semua itu diulang-ulang setiap hari. Itu semua turut membentuk kita untuk tak peka, dan tidak peduli. Mari “Pujilah TUHAN, hai jiwaku!” Karena tanpa itu, jiwa kita layu dan tidak vital. “Pujilah TUHAN, hai jiwaku!” dapat dimulai dengan peduli terhadap hutan dan laut, serta mengurangi keserakahan tersebut.
KJ. 9 : 2
Doa : (Jiwa kami membutuhkan suplemen dari Engkau, ya Bapa. Mohon segarkan dan vitalkanlah jiwa kami)
HARI MINGGU I SESUDAH EPIFANI
Minggu, 10 Januari 2021
Renungan Malam
KJ. 64 : 1 – Berdoa
KELUAR DAN BANGKIT DARI PENJARA BANALITAS
Mazmur 104 : 6 – 9
“Terhadap hardik-Mu air itu melarikan diri, lari kebingungan terhadap suara guntur-Mu” (ay. 7)
Banalitas menenggelamkan jiwa kita ke arus rutinitas. Jiwa kita terpenjara di dalamnya. Di dalam penjara banalitas rutinitas tersebut, jiwa kita dibentuk olehnya. Inilah yang membuat kita tidak mudah tergerak hati dan pikiran -juga motorik- untuk memberikan telinga, lalu mendengar keluh kesah kelompok disabilitas yang tersisih dari pelayanan gereja, memberikan waktu menyusun rencana memulihkan kerusakan hutan disebabkan ecocide, mengulurkan tangan guna mengangkat anggota jemaat yang terhempas dari persekutuan karena praktik rutin bergosip, dst. Jiwa kita terpenjara dan tidak berdaya, karena dibentuk oleh arus rutinitas, termasuk di gereja yang telah membuat hati, pikiran dan motorik terpenjara di dalamnya.
Â
Pemazmur memberikan kesaksian, bahwa Tuhan saja yang bisa mengguncangkan samudera dan membalikan airnya. Tuhan menghardik air samudera. Air samudera gemetar oleh suara guntur-Nya (ay.7). Siapapun kita tidak mampu melakukan hal seperti itu. Karena itu, hati, pikiran dan motorik yang ditenggelamkan oleh banalitas rutinitas memerlukan guncangan dari Tuhan. Kita perlu Tuhan. Hanya Tuhan yang mampu mengeluarkan hati, pikiran dan motorik kita dari penjara banalitas tersebut. Kita perlu terbebas dari belenggu banalitas rutinitas yang telah membuat hati, pikiran dan motorik tak peka serta tidak tergerak terhadap pergumulan maupun penderitaan sesama.
Â
Kita perlu hardikan-Nya, agar hati, pikiran dan motorik ini kembali manusiawi sebagai Citra Tuhan. Tuhan bisa menghardik kita melalui cara-Nya. Fenomena alam dapat Tuhan gunakan sebagai cara-Nya untuk menghardik manusia yang melakukan ecocide. Tuhan bisa juga menggunakan saat teduh, kontemplasi dan khotbah sebagai cara-Nya untuk menghardik hati, pikiran serta motorik kita yang dibentuk oleh rutinitas. Mari, serahkan hati, pikiran dan motorik ini agar diguncang oleh Tuhan, supaya kita manusiawi lagi serta tergerak untuk mencegah ecocide.
KJ. 64 : 2, 3
Doa : (Hanya kepada-Mu, kami menyerahkan kemanusiaan diri sendiri untuk dibebaskan. Ya Tuhan, mohon pulihkanlah kemanusiaan kami)
