MINGGU X SESUDAH PENTAKOSTA
Senin, 10 Agustus 2020

Renungan Pagi

KJ. 230 : 1,2,3 – Berdoa

MEMBERLAKUKAN NILAI-NILAI KEMANUSIAAN

Kisah Para Rasul 17 : 24 – 25

… Dialah yang memberi hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. (ay. 25)

Salah satu model dialog masyarakat pluralis, adalah sering memperlihatkan sikap berdamai, hangat di mana semua agama berbeda, tetapi memiliki kesaksian tentang pengalaman mistis yang sama-sama valid, sehingga berbagai apologetika dan argumen di antara mereka dapat dihindari (Paul. F. Knitter). Frasa ini menjadi fakta pada kelompok masyarakat toleran, tetapi tidak bagi keIompok radikalis. Lihatlah: orang Yahudi di Berea lebih baik hatinya daripada mereka yang di Tesalonika (ay. 11).

Keributan di Tesalonika terkait pemberitaan Injil Kristus, hampir berulang di Atena. Ini terlihat dari dialog Paulus dengan orang Yahudi, Yunani, para filsuf golongan Epikuros dan Stoa yang semakin memanas hingga membawa Paulus ke Areopagus untuk mempertanggungjawabkan pengajarannya (ay. 17 – 20). Hal penting disampaikan Paulus saat itu adalah Allah berdiam di takhta kemuIiaan-Nya, bebas tidak dikendalikan oleh manusia. Dari situlah dan dalam kedaulatan-Nya, la menjadikan bumi, langit dan segala isinya tanpa campur tangan manusia. Allah memberi nafas sehingga manusia menjadi makhluk hidup, dan dalam kemurahan-Nya, Allah memelihara manusia dengan memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Inilah nilai universal yang diakui oleh semua orang. Agama menjadi relevan ketika bersentuhan dengan nilai-nilai universal kemanusiaan, sebab realitas iman secara praktis ditemukan hanya dalam hubungan hidup manusia sehari-hari dengan TUHAN, Penciptanya (Yak. 2 : 22).

Jika hidup di tengah masyarakat plural hanya menyoal perbedaan, terutama keyakinan, maka yang akan terjadi adalah kebencian, kecurigaan, ketegangan, konflik dan permusuhan. Mari bersyukur atas keragaman manusia, dengan berbuat bagi sesama, sehingga damai-Nya tercipta dan dirasakan bersama.

KJ. 255 : 1,2,3

Doa : (Bimbinglah kami ya TUHAN membangun hidup yang baik dan toleran dengan semua orang di sekitar kami, agar damai-Mu terwujud bagi kebahagiaan bersama)

MINGGU X SESUDAH PENTAKOSTA
Senin, 10 Agustus 2020

Renungan Malam

GB. 224 : 1,5 – Berdoa

BERDIALOG DALAM NILAI KEMANUSIAAN

Kisah Para Rasul 17 : 26 – 28

Dari satu orang saja la telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi (ay. 26)

Pertentangan yang menjurus kepada konflik individu atau kelompok dalam masyarakat plural acapkali terjadi karena perbedaan pendapat dan keyakinan, ditambah berbagai kepentingan yang dipaksakan. Kaum eksklusif-fundamentalis selalu memandang rendah penganut agama lain, yang berbeda dengan mereka. Prinsip mereka bahwa mengakui kebenaran, kuasa penyelamatan dari agama atau tokoh agama lain, sebagai tamparan terhadap wajah Allah yang disembahnya (Paul F. Knitter). Kesalehan ini menghadirkan manusia arogan yang selalu memuji diri termulia di antara sesama, dan hanya mereka yang layak di hadapan Allah; melenyapkan orang lain (yang dipandang kafir) dibenarkan.

Di Areopagus Paulus sangat dilematis (perhatikan kata “juga”, ay. 31) menghadapi masyarakat plural yang pro-kontra dan telah mendakwanya sebagai pembawa ajaran “baru”, “dewa asing” (ay 18 – 19). Paulus menjelaskan pengajarannya dengan pendekatan yang universal (luas, umum) yang dapat diterima semua orang. Menurutnya, umat manusia dan bangsa-bangsa diciptakan Allah dari satu orang saja (: manusia, Ibr.: ha’ adam = tanah; Ind.: laki-laki, Kej. 4 : 1 – 5 : 32); manusia: “debu tanah” yang diberi Allah nafas sehingga hidup (Kej. 2 : 7; Ayb. 34 : 15; Pkh. 3 : 19 – 20). Di sini Paulus mau mengatakan agar orang-orang itu segera mengakhiri perdebatan perbedaan di antara mereka sebagai sesama ciptaan AlIah dalam sifat alami manusia yang sama.

Kita ada di tengah masyarakat beragam suku, agama, budaya, status sosial, dst. Di tengah keragaman yang tak terhindari ini, peran dan tanggung jawab kita dibutuhkan. Berjumpa dan berdialog dengan semua orang sebagai sesama warga Negara dan bangsa dalam nilai kemanusiaan, harus kita lakukan dengan tulus dan rendah hati. Hanya dengan cara inilah kita dapat membangun bangsa serta menghadirkan damai dan sejahtera TUHAN dalam hidup bersama.

GB. 347 : 1,2

Doa : (Ya Roh Kudus tolong, agar kami dalam masyarakat bersedia membangun percakapan yang berisi nilai-nilai kemanusiaan)

Scroll to Top