MINGGU XVIII SESUDAH PENTAKOSTA
Sabtu, 2 Oktober 2021
Hari Batik
Renungan Pagi
KJ. 260 : 1,2 – Berdoa
KESEIMBANGAN KEWAJIBAN DAN HAK
Ulangan 25 : 1 – 4
Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik (ay. 4)
Peraturan ini adalah tentang bagaimana seharusnya masyarakat menghukum orang yang bersalah dalam suatu perselisihan. Sebelum dihukum, orang itu harus melewati suatu proses pengadilan bersama dengan seterunya. Ia dan lawan berselisihnya diadili untuk mengetahui siapa yang benar dan yang salah. Yang salah akan dipukuli sebanyak empat puluh kali. Penekanan dari peraturan ini adalah pemukulan itu tidak boleh lebih dari empat puluh kali supaya jangan karena terbukti bersalah, orang itu diperlakukan lebih rendah dari pada orang lain. Setelah itu, ada ungkapan: “janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik.” Artinya, jangan menghalangi hak orang yang sedang bekerja. Ungkapan ini mengandung pesan atau peringatan supaya janganlah kesalahan orang yang terjadi pada saat itu, untuk seterusnya akan jadi penghalang baginya dalam mencari nafkah. Hal ini dapat terjadi jika ia menerima hukuman lebih dari yang semestinya.
Peraturan ini mengajarkan kita akan pentingnya menjaga reputasi orang yang telah mempertanggung-jawabkan kesalahannya. Pertanyaannya: dapatkah kebijaksanaan ini diberlakukan bagi seorang mantan koruptor yang terbukti menyalah-gunakan bantuan bagi masyarakat terdampak pandemi? Dapatkah kita tetap membuka kesempatan melayani di gereja bagi orang yang telah dihukum secara sosial karena terbukti melakukan perbuatan asusila? Dapatkah kita memberi kesempatan bekerja bagi residivis yang dihukum karena melakukan tindak kriminal?
Ketika diperhadapkan pada kenyataan, ungkapan: “jangan memberangus mulut lembu yang sedang mengirik” bukanlah hal yang mudah. Firman TUHAN mengingatkan bahwa setiap orang sangat mungkin melakukan kesalahan, apakah disengaja atau tidak, bisa juga karena terjebak kepentingan tertentu. Setelah menerima ‘hukumannya,’ kita pun harus berusaha untuk memberinya kesempatan melanjutkan hidup di jalan yang benar. Janganlah ditutup jalan nafkahnya.
KJ. 260 : 3
Doa : (Ya Tuhan, tolonglah kami untuk tidak hanya mengampuni, tetapi juga memulihkan orang lain)
MINGGU XVIII SESUDAH PENTAKOSTA
Sabtu, 2 Oktober 2021
Hari Batik
Renungan Malam
KJ. 73 : 1,2 – Berdoa
MENGEMBANGKAN SIKAP JUJUR DAN ADIL
Ulangan 25 : 13 – 16
Haruslah ada padamu batu timbangan yang utuh dan tepat; haruslah ada padamu efa yang utuh dan tepat—supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu (ay. 15)
Ayat ini mengemukakan kecenderungan orang untuk menggunakan timbangan atau standar ganda dalam menimbang barang jualan supaya mendapat keuntungan. Hal ini jelas merupakan kecurangan di mata TUHAN. Firman TUHAN menegaskan bahwa kita, pelaku perdagangan, harus memiliki ukuran yang utuh dan tepat, bukan hanya supaya beruntung tetapi panjang umur. Dengan kata lain, firman TUHAN ini menghubungkan kejujuran dalam berjualan dengan umur panjang, sedangkan kecurangan dengan kekejian di hadapan TUHAN.
Menggunakan timbangan atau standar ganda merupakan kecurangan yang umum dilakukan oleh pelaku perdagangan maupun usaha. Ada juga bentuk yang lebih elegan dari itu, yaitu pembukuan ganda. Pada umumnya, orang atau perusahaan yang melakukan pembukuan ganda bertujuan untuk menghindari pajak atau menyembunyikan data yang sebenarnya. Orang berpikir, penim bangan dengan standar ganda maupun pembukuan ganda, akan membuat mereka mendapatkan keuntungan yang lebih banyak dari pada jika menggu nakan standar atau pembukuan yang utuh dan tepat. Dengan demikian, mereka tidak memikirkan kerugian yang akan diderita orang lain maupun rasa tertipu yang akan membuat orang lain kecewa, asalkan mereka cepat kaya. Firman TUHAN secara tidak langsung memberi peringatan : apalah artinya kekayaan jika tidak bisa dinikmati karena berumur pendek.
Dengan mengaitkan kejujuran dengan umur panjang, TUHAN memper lihatkan kepada kita bahwa Dialah yang menentukan seberapa ‘kayanya’ kita berdasarkan rezeki yang diatur-Nya dan umur panjang yang dirancangkan-Nya. Kecurangan hanya akan mendatangkan murka-Nya sehingga apa yang dikerjakan orang curang tidak akan ada yang berhasil. Sederhananya, setiap kali kita berlaku curang, bayangkanlah betapa jijiknya TUHAN memandang kita. Karena itu, berlakulah adil, jangan curang dalam segala hal karena TUHAN berpihak pada yang dicurangi.
KJ. 73 : 3
Doa : (Ya Tuhan, tolonglah kami supaya tidak tergoda untuk berlaku curang dalam segala hal)
