HARI MINGGU XXII SESUDAH PENTAKOSTA
Minggu, 1 November 2020
Renungan Pagi
Ibadah Syukur HUT Ke-72 GPIB / Hari Reformasi
KJ. 407 : 1 – Berdoa
MEMAKNAI HIDUP
Hagai 1 : 1 – 7
“Beginilah firman Tuhan semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu!” (ay. 7)
“Bangun pagi kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong Ibu, membersihkan tempat tidurku.” Lagu anak-anak ini menunjukkan prioritas kegiatan mereka. Mandi atau membersihkan tubuh adalah langkah pertama bagi langkah-langkah selanjutnya. Setelah mandi, kegiatan apa pun dapat dilakukan dengan tubuh segar. Kalau suatu tugas dikerjakan dengan kesegaran tubuh, hasilnya akan lebih baik dari pada keadaan badan yang tidak segar. Mandi menjadi syarat bagi hasil kerja yang lebih baik.
Ketika bangsa Yahudi diijinkan pulang kembali ke Yerusalem dari pembuangan di Babel oleh Koresy raja Persia, mereka harus memulai kehidupan baru lagi. Sekalipun sebelum pembuangan mereka pernah tinggal disitu, memulai suatu kehidupan baru tetap merupakan hal yang tidak mudah. Perlu penyesuaian-penyesuaian lagi dengan tanah, budaya dan kehidupan sosial politik yang ada. Tidak serta merta mereka bisa merasakan kehidupan yang normal sebagaimana sebelum pembuangan, apalagi hidup enak. Mereka harus bekerja lebih keras dari pada sebelumnya, hasil yang diperoleh belum tentu sesuai dengan keinginan. Mereka lupa pada Allah sebagai yang prioritas dalam hidup ini.
GPIB telah memasuki usia 72 tahun di Negara ini. Setelah memasuki usia itu, apakah pernah ada yang bertanya tentang makna umur ini bagi sebuah gereja seperti GPIB? Atau GPIB hanya akan fokus mengerjakan yang sudah ditetapkan beberapa puluh tahun lalu? Apakah tujuan bergereja kita hanya untuk membangun gedung gereja yang baru, dan merenovasi yang lama agar menjadi lebih baik dan nyaman. Apakah itu wujud sikap umat yang memprioritaskan Tuhan? Bung Karno pada hari Raya Idul Qurban mengatakan, “Orang tidak dapat mengabdi kepada Toehan dengan tidak mengabdi kepada sesama manoesia, Toehan bersemajam di goeboeknya si miskin.” (Soekarno, 23/10 ’45.)
KJ. 407 : 3, 4
Doa : (Ya Tuhan, tolong ajar kami untuk memprioritaskan Engkau dalam kehidupan ini dengan melayani sesama)
HARI MINGGU XXII SESUDAH PENTAKOSTA
Minggu, 1 November 2020
Renungan Malam
Ibadah Syukur HUT Ke-72 GPIB / Hari Reformasi
KJ. 409 : 1 – Berdoa
SADAR SETELAH DIINGATKAN
Hagai 1 : 8 – 2 : 1a
“… lalu takutlah bangsa itu kepada TUHAN”. (ay. 12b)
Aceh mempunyai ketegangan berkepanjangan dengan pemerintah pusat. Dasarnya adalah anggapan bahwa Aceh menginginkan kebebasan yang lebih luas. Berbagai konflik kekerasan telah menghantui kehidupan rakyat selama bertahun-tahun. Keadaan itu berubah setelah peristiwa Tsunami yang menelan 250.000 korban jiwa. Peristiwa Tsunami membawa perubahan besar. Ada kesepakatan untuk mencari suatu solusi bersama melalui perundingan damai. Kesepakatan ini merupakan suatu keterbukaan antara kedua pihak dan menjadi perundingan damai di Helsinki.
Renungan pagi tadi menceritakan nabi Hagai yang memperingatkan Israel, bahwa Tuhan adalah prioritas. Kegagalan dan hasil kerja yang mengecewakan adalah bukti, bahwa Israel mengabaikan Tuhan. Meskipun pekerjaan mereka memberi hasil, tapi hasil itu tidak memuaskan. Kehidupan mereka menjadi sia-sia. Nabi Hagai mengkritik gaya hidup Israel dengan tajam. Kritik dari nabi Hagai membawa Israel kepada perubahan. Israel kembali kepada Tuhan.
Manusia mempunyai kecenderungan untuk tidak mau percaya sebelum ada bukti. Pertanyaannya, mengapa harus menunggu bukti baru muncul rasa percaya? Mengapa harus menunggu ada masalah baru menyadari kesalahan? Mengapa manusia tidak bisa mengantisipasi hal buruk sebelum ia merasakan dampaknya? Hal ini merupakan sesuatu yang biasa terjadi. Meskipun, titik awal dari kegiatan manusia itu tidak jelas. Manusia mempunyai kecenderungan untuk mengikuti keinginan hatinya dan meninggalkan Tuhan. Padahal, keberadaan Tuhan saja seharusnya sudah cukup menjadi motivasi bagi manusia. Tuhan yang mengatur kehidupan manusia. Tuhan juga yang mampu menyelamatkan manusia. Tuhan juga yang dapat menjadi motivasi bagi manusia untuk melakukan tindakan-tindakan yang baik. Namun demikian, manusia seringkali bergantung pada motivasi yang tidak jelas. Pada akhirnya, motivasi yang tidak jelas mengakibatkan suatu tindakan yang tidak bermakna.
KJ. 409 : 2, 3
Doa : (Tuhan Yesus, tolong ajar kami, untuk selalu percaya tanpa syarat pada-Mu sebagai bukti iman kami)
