MINGGU V PRAPASKAH
Senin, 1 Maret 2021

Renungan Pagi

GB. 215 : 1 – Berdoa

BERITAKAN INJIL UNTUK MENYUKAKAN ALLAH

1 Tesalonika 2 : 3 – 4

“… bukan untuk menyukakan manusia melainkan untuk menyukakan Allah …”

Tantangan pribadi bagi pemberita Injil adalah saat ia mulai dikenal. la mulai populer dan diterima banyak orang. Bukan saja membuatnya ternama tetapi juga terlena. Bisa jadi ia abai, bisa jadi pemberitaan Injil (Firman) bukan untuk menyukakan Allah, tetapi manusia.
 
Paulus sadar betul akan panggilan dan pengutusannya. Allah yang mempercayakan Paulus untuk memberitakan Injil. Allah mengasihi manusia berdosa melalui Yesus Kristus. Motivasi murni yang dimiliki Paulus kiranya menjadi bagian kita juga. Tuhan dimuliakan melalui pemberitaan kita, melalui karya pelayanan dan sikap hidup kita setiap hari.
 
Meskipun dihadapkan pada tantangan, pemberitaan Injil diberitakan untuk menyenangkan Allah, bukan manusia. Sebab sumber keselamatan itu adalah Allah sendiri yang datang dalam Yesus Kristus. la menetapkan saudara dan saya menjadi pemberita Injil (baca: Kisah Para Rasul 1: 8). Makna kalimat ini sangat dalam artinya. Setiap kita dipercayakan oleh Tuhan Yesus Kristus dalam tugas itu sehingga jalani dalam tuntunan dan kehendak-Nya.
 
Ada tuduhan bahwa Paulus dan pemberitaan Paulus adalah penipuan semata. Bahkan Festus menyatakan bahwa Paulus glia (Kisah Para Rasul 26: 24). Jelas tidak mudah karena ada tuduhan terhadap pelayanan yang dilakukan seperti perjamuan kudus atau cium kudus, yang dikembangkan begitu rupa seolah-olah.ada kegiatan yang tidak sesuai norma sosial masyarakat. Di sinilah Paulus harus menentukan sikap: menyukakan manusia atau menyukakan Allah. Mari tetap beritakan injil, baik atau tidak baik situasinya; bukan untuk menyukakan manusia, tetapi menyukakan Allah.

GB. 215 : 2

Doa: (Tolong kami terus memberitakan Injil-Mu)

MINGGU V PRAPASKAH
Senin, 1 Maret 2021

Renungan Malam

GB. 50 : 1 – Berdoa

BUKAN CARI UNTUNG

1 Tesalonika 2 : 5 – 6

“… tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi — Allah adalah saksi …” (ay. 5c)

Dengan terus memberitakan Injil, saudara dan saya sedang merawat kerohanian warga jemaat. Tetapi motivasi kita harus tetap murni memberitakan Injil, bukan cari untung. Lihat yang dilakukan Paulus, Timotius dan Silwanus, mereka melayani dalam ketekunan dan kesungguhan.
 
Moralitas dan mentalitas seperti itu harus dipelihara dan dijaga, sebab kalau kita sungguh-sungguh setia melakukan pelayanan pemberitaan Injil, maka berkat Tuhan datang menghampiri kita, mencukupkan kebutuhan keluarga kita. Saat kita melakukan pemberitaan Injil, Tuhan sedang menyiapkan berkat bagi kita. Bukankah hari lepas ke sehari, Tuhan mencukupkan kebutuhan kita? Dengan begitu, kita selalu tahu membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan.
 
Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, rasul Paulus sama sekali tidak membebani orang lain. Seperti kita ketahui, ia bekerja dan berjerih lelah dengan membuat kemah (baca: Kisah Para Rasul 18: 3). Jelas janganlah Injil gagal diberitakan dengan kelakuan kita yang mencari keuntungan dalam pelayanan.
 
Paulus dituduh mencari pujian untuk dirinya sendiri. Pelayanan bukanlah panggung pagelaran mencari popularitas tetapi alat kemuliaan Tuhan, di mana kabar keselamatan disampaikan bagi banyak orang. Dengan menerima serta mengimani karya keselamatan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus di kayu salib, setiap orang memperoleh keselamatan kekal. Biarlah kita setia memberitakan Injil untuk membuat orang lain bertumbuh, dan Allah dimuliakan melalui pelayanan pemberitaan Injil yang kita kerjakan.

GB. 50 : 2

Doa: (Tuhan biarlah kami melayani firman-Mu dengan tulus dan setia)

Scroll to Top