MINGGU IV SESUDAH EPIFANI
Rabu, 2 Februari 2022

Renungan Pagi

GB. 218 : 1 – Berdoa

KASIH ALLAH TAK TERBATAS

Lukas 14 : 1 – 6 

Mereka itu diam semuanya. Lalu la memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi (ay. 4) 

Ada karya layan yang tak kenal waktu, malah kadang-kadang tidak bisa ditunda. ltu pernah terjadi, ketika Yesus sedang menghadiri undangan makan dari salah seorang petinggi orang Farisi. Tiba-tiba datang seorang yang sakit busung air. Yesus paham betul peraturan tentang hari Sabat. la lalu berdialog, “Apakah boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat?” Namun demikian, orang Farisi diam saja. Yesus lalu memegang tangan orang sakit itu. la menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi.

Saudaraku, Yesus bukan melanggar aturan dan’ petinggipetinggi Yahudi. Yesus menghargainya, karena itu Dia bertanya (ayat 3), ketika ada orang yang membutuhkan uluran kasih Allah untuk disembuhkan. Dengan menolong, Yesus nampaknya mau menunjukkan tiga hal. Pertama, kasih Allah tak bisa dibatasi. Kedua, orang yang sakit tersebut sangat membutuhkan pertolongan kesembuhan. Ketiga, jangan menunda untuk berbuat baik bagi orang yang berhak menerimanya.

Saudaraku, kita memang tak punya kuasa untuk menyembuhkan, tapi bisa mendoakan atau sedikit meringankan beban orang yang sakit dengan memberi bantuan. Mengapa tidak? (Amsal 3 : 27,28). Jangan pernah batasi kasih Allah dengan alasan apapun. Kita dipanggil serta diutus, seperti Yesus yang menolong dan memulihkan mereka yang lemah pun sakit. Ada yang lemah fisik. Ada yang lemah secara ekonomi. Ada yang sakit parah. Ada yang sakitnya sudah menahun. Saudara-saudara itu membutuhkan kasih dan perhatian kita. Apa yang bisa kita bantu, Iakukanlah dalam kasih Kristus. Betul kita tidak bisa membuat mujizat seperti Yesus. Walaupun demikian, perhatian dan doa kita sangat berarti. lngatlah, bahwa kasih Allah dapat menjangkau semua hal.

Saudaraku, dalam kasih dan kemurahan Allah, kita diberi kesehatan yang prima, yang memungkinkan untuk melakukan banyak hal. Mari melayani. Jangan membatasi kasih Allah bagi banyak orang dengan berbagai alasan. Karena itu, biarlah kita menjadi penerus kasih Allah yang tak terbatas.

GB. 218 : 2

Doa : (Pakailah kami sebagai alat pelayanan yang meneruskan kasih-Mu)

MINGGU IV SESUDAH EPIFANI
Rabu, 2 Februari 2022

Renungan Malam

GB. 261 : 1 – Berdoa

HARKAT YANG DIPULIHKAN

Lukas 14 : 12 – 14 

Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta (ay. 13) 

Di acara-acara khusus, maka yang ditunggu adalah makan bersama. Dengan makan bersama, maka terjalin keakraban, karena ada bincang-bincang ringan. Di Indonesia dibahasakan sebagai ramah tamah. Yesus bukannya anti pada undangan makan. Buktinya pada bacaan sebelumnya Yesus mau duduk makan bersama dengan petinggi-petinggi Yahudi.

Yang Yesus arahkan dalam bacaan kita adalah memperhatikan mereka yang susah, yang tidak mempunyai makanan, yang terpinggirkan. Alangkah tidak eloknya bisa makan besar bersama orang-orang yang notabene pasti punya makanan, malah berlebihan, Ialu mengabaikan mereka yang susah.

Makan bersama adalah kesempatan membangun persekutuan yang Iebih erat, dengan siapapun. Dalam hal ini Yesus mendorong untuk berbagi kasih dengan mereka yang berkekurangan. Bahkan Yesus pemah mengingatkan, “Orang miskin selalu ada padamu… (Matius 26:11). Artinya, Yesus mau kita juga peduli pada mereka yang berkekurangan.

Bunda Theresa mendefinisikan mereka yang terpinggirkan sebagai berikut :
“Yang lapar dan kesepian, tidak hanya akan makanan, tetapi juga akan Sabda Allah; yang haus dan yang bodoh, tidak hanya akan air, tetapi juga akan pengetahuan, damai, kebenaran, keadilan dan cinta; yang telanjang dan yang tidak dicintai, tidak hanya soal pakaian, tetapi juga akan martabat manusia; yang tidak diinginkan, anak-anak yang belum lahir, penentang diskriminasi rasialis, kaum tuna wisma dan orang-orang terbuang, mereka tidak hanya butuh rumah yang tersusun dari batu bata, tetapi juga akan sebuah hati yang memahami, yang melindungi, yang mencintai; yang sakit, yang melarat, yang hampir mati dan para tawanan tidak hanya secara jasmani, tetapi juga pikiran dan jiwa. Mari kita pun menunjukkan kepedulian kepada mereka yang Iemah dan terpinggirkan.

GB. 261 : 2 

Doa : (Tolong kami Bapa untuk mengasihi mereka yang susah dan berkeluh serta terpinggirkan)

Scroll to Top