MINGGU ADVEN I
Selasa, 1 Desember 2020
Renungan Pagi
KJ. 441 : 1, 2, 3 – Berdoa
SERIGALA BUAS, BER “IKLAN” DOMBA
Matius 7 : 21 – 23
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka… (ay. 23)
Jati diri kita adalah baik adanya. Karena itu, apa yang kita perbuat seharusnya hal tersebut menjadi hakikat diri sendiri. Bukankah sedari awalnya Allah meneguhkan siapa kita dalam masa penciptaan? Berfirmanlah Allah, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita. Bukankah gambaran ini yang mutlak menjadi standar dalam kita menilai diri, dan berperilaku?
Yesus menjelaskan perkara di atas, bahwa karena Allah itu baik, maka baiklah manusia itu idealnya. Bukankah buah senantiasa dihasilkan dari pohon yang baik? Begitu pula, pelayanan yang baik akan menghasilkan pelayanan yang berbuah multi kebaikan. Yesus, berterus terang, apa yang dianggap para murid atau mereka yang melakukan kehendak-Nya adalah benar dan baik, tidak berarti hal tersebut benar dan baik menurut-Nya. Bahkan, apa yang dipandang baik, kebalikannya adalah sesuatu yang jahat. Kehendak Allah bukanlah sebuah seruan atau lantunan doa dan pujian, tapi serangkaian aksi yang menjadi perilaku utama dalam hidup kita.
Tidak semua pelayanan murni dalam penilaian-Nya. Yesus memperingatkan hadirnya pelayan palsu yang pelayanannya didasarkan pada niat “palsu”. Semua pelayanan yang tidak bermotif melakukan kehendak-Nya, akan gugur dalam perjalanan. Bahkan kalaupun sampai pada masa akhir pelayanan, Yesus tidak mendapati bahwa kita telah “berbuah”, maka ini adalah tragedi pelayanan. Semua pelayanan dalam bidang apapun harus menghasilkan standar buah dari-Nya. Di luar itu, kita adalah “serigala buas” yang ber-“iklan” domba. Kita semua mengerti, bahwa nilai pelayanan kita itu “zonk” alias sampah. Packaging-nya kebaikan, tapi berisi sampah (Frank!).
Mari memikirkan kembali motif berpelayanan. Tuhan ingin kita menjadi domba-domba yang menikmati kebaikan-Nya. Dengan demikian semua orang mengerti, bahwa domba yang dipelihara dengan baik akan mengalami kehidupan yang berhasil, berkualitas dan menjadi kesaksian yang nyata.
KJ. 441 : 4, 5
Doa : (Ya Bapa, murnikanlah niat pelayanan kami di semua bidang kehidupan, agar yang disampaikan tidak berisi “ketidakbenaran”)
MINGGU ADVEN I
Selasa, 1 Desember 2020
Renungan Malam
KJ. 412 : 1 – Berdoa
MEMIMPIN DENGAN IMAN YANG RASIONAL
Matius 8 : 5 – 13
Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita (ay. 6)
Pernahkah saudara mendengar pengakuan seorang ibu atau ayah yang mengatakan, bahwa kalau anak mereka sakit maka mereka pun merasa sakit? Tentu kasusnya akan banyak terdengar dan bahkan kita sendiri alami. Nah, bagaimana dengan orang-orang yang bekerja pada seseorang? Apakah ketika mereka sakit, sang pemimpin merasa ikut secara otomatis sakit? Tentu jawabannya tidak sepersis pengalaman di atas.
Perwira dalam bacaan hari ini menceritakan kondisi hambanya. Bukan saja jenis penyakit yang dialaminya, tapi situasi penderitaan hambanya. Sebagai seorang yang hidup dalam lingkup kedisiplinan militer yang kuat, ia memahami aturan main dan arti kedudukan serta kuasa yang dimiliki.
Yesus bersedia menolong perwira tersebut dengan menawarkan diri untuk datang ke rumahnya. Perwira tersebut menjawab dengan halus, “Aku dan rumahku tidak layak untuk pribadi mulia seperti Guru”. la sadar, bahwa dari segi kehidupan spiritual ia menggolongkan dirinya sebagai pribadi yang “kotor”. la hanya meminta Yesus mengatakan sepatah kata. la yakin, Yesus memiliki otoritas menyembuhkan. Jadi hanya dengan mengatakan satu kata, maka kuasa sebuah perkataan tersebut akan bekerja. Dalam persamaan dengan pengalaman di dunia militer, perwira tersebut yakin, jika kuasa Yesus lebih tinggi dari penyakit hambanya, maka penyakit itu akan tunduk. Yesus sangat menghargai cara berpikir, atau iman perwira tersebut.
Seorang pemimpin perlu memahami, bahwa akal sehat dapat dipakai dalam meyakini apa yang Yesus sanggup lakukan bagi hidupnya dan orang lain. Yesus mengizinkan kita memahami pekerjaan-Nya dengan akal, karena Dialah yang menciptakannya. Namun demikian, ada hal yang tidak diijinkan-Nya dipahami dengan akal (band. Lukas 24:45). Akhirnya, arahkanlah pikiran untuk kesejahteraan orang lain, sebagaimana kita menginginkan hal tersebut!
KJ. 412 : 2
Doa : (Bapa, mohon berkatilah pikiran hamba-Mu ini untuk dapat mengerti cara membangun hubungan iman dengan-Mu. Mohon tuntunlah hamba-Mu ini dan karuniakanlah kasih untuk mengasihi mereka yang dipimpin)
