MINGGU III PRAPASKAH
Sabtu, 2 April 2022

Renungan Pagi

KJ. 161 : 1,2 – Berdoa

MENGHALANGI ANAK-ANAK DATANG KEPADA YESUS

Matius 19 : 13 – 15 

“Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga (ay. 14) 

Yesus tidak menggunakan kata melarang anak-anak datang kepada-Nya, tetapi memakai kata: menghalang-halangi. Melarang seringkali dibuat dengan sengaja, dan hampir pasti tidak ada orang tua yang tidak menyetujui anak-anaknya datang kepada Yesus. Bahkan justru sebaliknya, banyak orang tua yang menganjurkan anak-anaknya datang kepada Yesus. Tetapi menghalang-halangi dibuat dengan tidak sengaja atau tanpa sadar. Memang sering anak-anak gagal datang kepada Yesus, karena kita mengabaikan sebuah nilai penting dalam kehidupan, yang diajarkan Tuhan.

Biasanya menghalang-halangi anak-anak datang kepada Tuhan, karena tanpa sadar melalui tingkah Iaku dan perbuatan, kita telah membuat Kristus menjadi tokoh yang tidak menarik bagi mereka. Bahkan kita menempatkan tokoh-tokoh tertentu yang jadikan idola di dalam keluarga atau tokoh-tokoh yang menjadi idola bagi anakanak dalam mengenal pertembuhan mereka. Kita juga bisa melakukan hal itu dengan cara mengabaikan kehidupan religius anakanak dalam mengenal Tuhan mereka.

Kita bisa menghalang-halangi anak-anak kita dengan cara tidak serius dengan Firman Allah. Akibatnya kita memutuskan hubungan anak-anak dengan Tuhan. Ketidaktertarikan kita kepada Tuhan secara tidak sadar telah membendung anak-anak untuk mengenal dan mencintai Tuhan dengan baik. Pekerjaan pelayanan hanyalah sisipan atau tambahan belaka sebab kita berkonsentrasi penuh ke berbagai bidang kehidupan yang lebih menguntungkan dan menjanjikan masa depan. Melepaskan anak-anak dan menelantarkan mereka di dalam memilih apa yang mereka inginkan tanpa tuntunan sama sekali dari orang tua, sehingga Kristus tidak menarik bagi mereka. Menganjurkan anak-anak untuk menaati Firman Allah, sementara sebagai orang tua kehidupan kita sama sekali tidak diwarnai oleh Firman Allah. Dalam kondisi seperti itu tanpa kita sadar kita telah menghalang-halangi anak-anak kita datang kepada Yesus.

KJ. 360 : 1,2

Doa : (Ya Tuhan tolonglah kami agar kami tidak menghalang-halangi anak-anak kami sengaja ataupun tidak sengaja datang kepada Yesus)

MINGGU III PRAPASKAH
Sabtu, 2 April 2022

Renungan Malam

KJ. 439 : 1,3 – Berdoa

BAHAYANYA KEKAYAAN

Matius 19 : 16 – 26 

lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah (ay. 24) 

Yesus tidak sedang memberikan informasi bahwa orang kaya tidak masuk surga seperti unta tidak mungkin melewati lubang jarum. Tetapi Yesus sedang berbicara tentang bahayanya kekayaan, secara hiperbolis. la mengungkapkan bahaya itu dengan mempergunakan ungkapan: lebih mudah unta melewati lubang jarum ketimbang orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Yesus tidak memusuhi orang kaya, tetapi la mengingatkan bahaya yang bisa datang melalui kekayaan. Di dalam Alkitab, khususnya Perjanjian Baru ditemukan banyak murid Yesus yang kaya, sebagai contoh Zakheus atau Yusqurimatea. Sedangkan di Perjanjian Lama lebih banyak Iagi, misalnya: Abraham, Daud, Sanmo dst. Firman Allah juga berbicara tentang kemakmuran dan kesejahteraan adalah rahmat Tuhan (Maz 112:3). Dengan perkataan Iain kekayaan tidak salah tetapi orang yang kaya harus berhati-hati sebab kekayaan bisa mendatangkan bahaya.

Kekayaan bisa membuat orang melupakan Tuhan. Kekayaan bisa mengeraskan hati manusia sehingga kehilangan belarasa, kikir dan menjadi arogan. Manusia tergoda untuk berpikir bahwa kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki dapat mengendalikan hidup. Orang kaya mengembangkan semacam rasa aman tanpa Tuhan, atau dengan perkataan lain rasa aman yang semu. Itulah bahaya kekayaan.

Apakah orang kaya bisa masuk surga? Apakah unta bisa melewati lubang jarum? Sekali lagi ini gaya hiperbola yang dipergunakan Yesus. Tetapi menjawab pertanyaan itu, bagi manusia tidak mungkin, namun bagi Tuhan mungkin (ay.26). Keselamatan adalah karya Allah dan bukan pencapaian manusia. Manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya dari dosa, tetapi Tuhan bisa menyelamatkan manusia dari dosa. Manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya dari kematian tetapi Tuhan bisa melakukan hal itu. Tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Tuhan.

PKJ. 271 : 1,2 

Doa : (Bebaskan kami ya Bapa dari bahaya kemiskinan, tetapi juga bebaskan kami dari bahaya kekayaan)

Scroll to Top